“Perkembangan Fisik dan Motorik Masa Remaja”

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).

Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan. Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial

1.2 Rumusan Masalah.

v     Bagaimana perkembangan fisik pada masa remaja?

v     Bagaimana perkembangan motorik pada masa remaja?

1.3 Tujuan

v     Untuk mengetahui perkembangan fisik pada masa remaja

v     Untuk mengetahui perkembangan motorik pada masa remaja

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Perkembangan Fisik Masa Remaja

Perubahan perilaku gerak sejak bayi lahir sampai usia dewasa merupakan kajian menarik untuk dipelajari. Pada modul lima ini merupakan kelanjutan dari pembahasan perkembangan gerak yang dimulai sejak masa anak-anak sampai menjelang masa Adolesensi. Perkembangan gerak merupakan proses pengembangan yang berkesinambungan dan berkaitan dengan perubahan perilaku gerak manusia. Perubahan perilaku gerak dan penampilan keterampilan seseorang berhubungan dengan bertambahnya umur.

Dalam modul ini akan di bahas perkembangan gerak adolesensi yang menyangkut pertumbuhan fisik, perkembangan gerak, dan aktifitas fisik yang diperlukan pada masa tersebut. Masa adolesensi merupakan masa transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa. Serangkaian perubahan yang cepat terjadi pada masa adolesensi, baik yang berkaitan dengan ukuran, proporsi bentuk tubuh, pertumbuhan jaringan dansebagainya.berbagai perubahan, pertumbuhan dan perbedaan-perbedaan pertumbuhan yang terjadi antara anak laki-laki dengan perempuan.

Masalah-masalah yang berhubungan dengan:

  1. Pertumbuhan fisik yang berhubungan dengan ukuran dan proporsi tubuh, jaringan tubuh, perubahan dan jaringan peningkatan kekuatan;
  2. Perkembangan gerak yang meliputi kemampuan gerak, koordinasi dan keseimbangan, dan peningkatan penampilan gerak;
  3. Aktifitas fisik yang diperlukan dalam masa adolesensi, seperti kegiatan-kegiatan yang memerlikan pertimbangan fisiologis, medis, cedera yang mungkin terjadi, perbedaan jenis kelamin dan kematangan bertanding.

 

Adolesensi merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dalam masa ini terjadi pertumbuhan yang sangat cepat sampai pada saatnya mencapai kematangan seksual, kemudian timbul fase perlambatan sampai tidak terjadi pertumbuhan lagi. Pertumbuhan yang terjadi menimbulkan perubahan ukuran, seperti proporsi bentuk tubuh, perubahan dalam komposisi tubuh, sistem peredaran darah, pernapasan, sistem syaraf, kematangam seks primer dan sekunder dan sebagainya.

Pada awal masa adolesensi perempuan lebih tinggi dan lebih berat dari laki-laki keadaan tersebut tidak terlalu lama setelah perubahan yang cepat terjadi. Pada anak laki-laki. Seterusnya laki-laki mengungguli tinggi dan berat badan perempuan, demikian pula ukuran-ukuran yang lain, seperti togok, panjang tungkai, lebar pundak, dan ukuran lengan.

Perubahan secara proporsional terjadi pada tulang dan jaringan lemak. Pertumbuhan tulang otot berjalan dengan peningkatan tinggi dan berat badan. Sedangkan penurunan volume jaringan lemak lebih nampak pada laki-laki dibabdingkan dengan perempuan.

Salahsatu perubahan fisiologis adalah denyut nadi basal yang selalu menurun secara berangsur-angsur dan sama untuk anak laki-laki dan perempuan sejak lahir, tetapi pada masa adolesensi penurunan pada laki-laki lebih cepat dibandingkan dengan perempuan sesudah umur 12 tahun.

Perbandingan perubahan awal dari kekuatan menggenggam anak laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan anak perempuan, sedangkan kekuatan menarik dan mendorong hampir empat kali lipat besarnya, meskipun sampai umur 13 tahun hampir tidak terjadi perbedaan.

2.1.1 Pertumbuhan fisik adolesensi

Adolesensi atau masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.Hal ini biasanya dipandang dari segi kematangan seksual dan cepatnya pertumbuhan. Adolesensi dimulai dengan percepatan rata-rata pertumbuhan sebelum mencapai kematangan seksual, kemudian timbul fase perlambatan, dan berhenti setelah tidak terjadi pertumbuhan lagi, yaitu setelah mencapai masa dewasa.

Pada masa adolesensi terjadi perkembangan biologis yang kompleks, yang meliputi percepatan pertumbuhan, perubahan bentuk proporsi tubuih, perubahan dalam komposisi tubuh, kematangan cirri-ciri seks primer dan sekunder, perkembangan pada system pernapasan dan kerja jantung, dan mengkoordinasikan perubahan-perubahan tubuh, seksual,dan fisiologis.

Secara biologis dalam masa adolesensi ini system reproduksi mencapai taraf kematangan.

a. Ukuran dan proporsi tubuh.

Perbedaan ukuran badan untuk kedua jenis kelamin pada masa sebelum adolesensi adalah kecil, meskipun ada kecenderungan anak laki-laki sedikit lebih tinggi dan lebih berat dibandingkan anak-anak perempuan.Sedangkan pada masa awal adolesensi anak-anak perempuan lebih tinggi dan lebih berat daripada laki-laki. Akan tetepi keadaaantersebut tidak terlalu lama setelah perubahan yang cepat terjadi pada anak laki-laki pada masa adolesensi. Anak laki-laki mengejar dan mengungguli tinggi dan berat badan anak perempuan, ukuran-ukuran yang lain,seperti tinggi togok, panjang tungkai lebar bahu, lebar pinggul, ukuran lengan dan sebagainya mengikuti pertumbuhan tinggi  dan berat badan yang berlangsung dengan cepat.Pada masa adolesensi antar laki-laki dengan perempuan makin jelas perbedaan ukuran dan bentuk tubuhnya.

Pertumbuhan yang cepat pada masa adolesensi menimbulkan terjadinya perbedaan-perbedaan morfologis antara anak laki-laki dan perempuan yang semakin jelas.Ciri-ciri yang menonjol adalah bertambahnya lebar bahu anak laki-laki lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan pinggulnya,sebaliknya terjadi pada anak-anak perempuan yang mengalami pertumbuhan yang cepat pada pelebaran pinggulnya, dibandingkan dengan perkembangan pada pinggang dan bahu.

Pertumbuhan tungkai anak-anak laki-laki dan perempuan pada masa sebelum adolesensi menunjukkan proporsi yang sama antara anggota bagian bawah dan togok terhadap tinggi badan secara keseluruhan.Akan tetapi pada masa adolesensi sampai dewasa, anak perempuan menunjukkan hanya kecil pertumbuhan, pada tungkai sehingga lebih pendek dibandingkan dengan rata-rata tungkai anak laki-laki yang mengalami peertumbuhan yamh lebih cepat.

Perubahan fisik selama adolesensi menunjukkan beberapa indikasi dalam komposisi tubuh.Perubahan komposisi terutama bervariasi pada kegemukan dan kekurusan,Anak laki-laki meningkat ke arah berotot terutama pada anggota badan, sedangkan anak perempuan meningkat kea rah ramping dan gemuk atau makin berlemak.Peningkatan tersebut untuk anak laki-laki berlangsung dengan cepat terutama menjelang dewasa, sedangkan untuk ank perempuan berlangsunga secara bertahap.

Perkembangan organ reproduksi anak perempuan mulai lebih awal dibandingkan anak laki-laki.Awal dari masaa puber anak laki-laki lebih sukar dikenali, biasanya ditandai adanya percepatan pertumbuhan kantung kemaluan (skrotum) dan testis, serta mulai tumbuhnya rambut kelamin, dan juga pelebaran pangkal tenggorokan (laryns).

Awal puber anak perempuan ditandai dengan terjadinya mentruasi pertama, dan berdasarka tanda-tanda seks sekunder, seperti mulai berkembangnya buah dada, tumbuhnya rambut kelamin dan sebagainya.

Usia mulainya menstruasi pertama berkisar antara 12 sampai 14 tahun.Variasi usia menstruasi pertama dipengaruhi oleh berbagai macam situasi, seperti iklim, gizi makanan, kebudayaan atau ras suku bangsa.Di daerah panas (khatulistiwa) cenderung lebih cepat terjadinya menstrusi pertama dibandingkan di daerah dingin (utara atau selatan).

Kematangan seksual berdasarkan ras antara anak laki-laki kulit hitam dan anak laki-laki kulit putih hanya sedikit atau hamper tidak terjadi perbedaan, tetapi pada anak perempuan ternyata terdapat perbedaan.Anak perempuan Mexico mulai menstruasi pertama pada usia 12,5 tahun, rata-rata anak eropa 12,9 tahun, jepang dan negro 13,1 tahun, dan cina 13,9 tahun.status gizi berpengaruh terhadap usia menstruasi pertama berhubungan dengan kegemukan.Seorang anak yang gemuk cenderung lebih cepat mengalami menstruasi pertama dibandingkan anak-anak yang relative lebih kurus.Gizi yang baik dan kondisi lingkungan yang baik berpengaruh terhadap kecepatan perkembangan dan kecepatan kematangan akan lebih cepat diperoleh, sebaliknya kekurangan gizi menurunkan tingkat perkembangan organism.

Dalam perkembangan fisik yang berhubungan dengan kematangan seksual mencapai puncaknya pada periode adolesensi.Peningkatan yang pesat pada anak perempuan berakhir pada usia 11 sampai 13,5 tahun dengan penambahan tinggi rata-rata 3,25 inchi (8,25 cm)setiap tahun, sedangkan pada anak laki-laki antara usia 13 sampai 15,5 tahun dengan penambahan tinggi rata-rata 4 inchi (10,16 cm) setiap tahun.

Urutan pencapaian puncak pertumbuhan anak laki-laki di mulai dengan panjang tungkai, kemudian panjang togok dan disusul dengan pelebaran panggul dan dada, pelebaran pundak (bahu) dan akhirnya pada penebalan dada.Pertumbuhan puncak panjang tungkai dengan panjang togok kira-kira berselang satu tahun.

Kematangan yang terhambat ditandai oleh variasi urutan, lamanya dan intensitas peningkatan berbagai segmentubuh selama periode pertumbuhan. Seorang anak yang lambat matang mengalami pertumbuhan tungkai lebih lama sehingga secara proporsional tungkai lebih panjang dibandingkan dengan togok. Pada anak laki-laki yang cepat matang cenderung mempunyai tungkai lebih pendek dengan panggul lebih besar dibandingkan dengan mereka yang lambat matang. Sedangkan pada anak perempuan yang lambat matang cenderung mamilliki tungkai lebih panjang dan bahu lebih lebar dibandingkan dengan mereka yang cepat matang.

Perbedaan bentuk tubuh antara anak laki-laki dengan perempuan menjadi tampak lebih jelas sesudah masa pubertas. Kedua jenis kelamin memiliki ukuran skeletal yang berbeda. Anak laki-laki menjadi seorang dewasa dengan  tungkai dan lengan yang lebih panjang dan bahunya lebih lebar, sedangkan pada wanita dewasa akan lebih nampak lebih besar pinggulnya.

b. Pertumbuhan Jaringan Ttubuh

Perubahan proporsional terjadi pada tulang otot dan jaringan lemak pada masa adolesensi. Pertumbuhan tulang dan otot sejalan dengan peningkatan tinggi dan berat badan. Sedangkan penurunan volume jaringan lemak lebih nampak pada anak laki-lakidibandingkan dengan anak perempuan. Pertumbuhan tulang dan otot sama, tetapi penurunan volumelemak tidak sama lamanya.

Dari hasilpenelitian yang dilakukan oleh Malina dan Johnston (1967) disimpulkan bahwa perbandingan otot dengan tulang pada masa sebelum adolesensi untuk kedua jenis kelamin adalah sama, yaitu 2,6 : 1. Perbandingan tersebut tetap sama sampai pubertaspada usia 15,5 tahun untuk anak perempuan, sedangkan bagi anak laki-laki perkembangan otot lebih meningkat sedikit lebih besar menjadi 2,7 : 1

Perbandingan antara otot dengan lemak untuk anak perempuan pada masa sebelum adolesensi agak tetap (konsisten), yaitu 2,3 : 1, dan meningkat menjadi 2,4 : 1 pada masa sesudah adolesensi. Pada anak laki-laki perbandingan antara otot dengan lemak tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan anak perempuan , yaitu 2,5 : 1 dalam masa sebelum adolesensi, dan pada usia 15,5 tahun menjadi 2,6 : 1. Hal ini menunjukkan terjadinya penurunan lemak pada anak laki-laki.

c. Perubahan Fisiologis

Adolesensi ditandai oleh berbagai macam perubahan-perubahan fisiologis yang berhubungan dengan masa pubertas dan berpengaruh terhadap penampilan fisik pada kedua jenis kelamin. Salah satu perubahan adalah dengan denyut nadi basal yang selalu menurun secara berangsur-angsur dan sama untuk kedua jenis kelamin sejak lahir. Penurunan denyut tersebut terus berlangsung selama antara kedua jenis kelamin, tetapi pada masa adolesensi penurunan denyut nadi pada anak laki-laki berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan anak perempuan sesudah umur 12 tahun, dan sampai masa dewasa denyut nadi waktu istirahat untuk seorang wanita, 10% lebih besar dari pada pria.

Sesuai dengan perubahan yang terjadi pada denyut nadi, maka terjadi pula perubahan pada temperatur tubuh basal. Pada orang yang sehat denyut nadi berhubungan erat dengan temperature tubuh. Temperature tubuh anak laki-laki 1,5ºF lebih rendah dibandingkan dengan perempuan.

Tekanan darah sistolik naik secara ajeg sejak maen kanak-kanak, kemudian meningkat lebih cepat selama masa adolesensi, dan terus meningkat sampai dewasa. Perubahan tersebut untuk anak perempuan terjadi lebih awal, tetapi pada laki-laki bertambahnya lebih besar. Perubahan tekanan darah distolik hanya kecil, dan antara laki-laki dan perempuan tidak terdapat perbedaan yang meyakinkan.

Perbedaan tekanan daah distolik yang nyata antara laki-laki dengan perempuan, dengan ditandai tingginya tekanan yang dimiliki oleh laki-laki, hal ini kemungkinan disebabkan oleh volume pemompaan jantung dan volume darah yang lebih besar. Volume darah yang besar pada laki-laki pada masa adolesensi ditandai dengan bertambah besarnya sel darah merah. Peningkatan jumlah darah merah pada anak laki-laki berarti meningkatnya pula hemoglobin dalam darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak perempuan.

Peningkatan sel darah merah dan hemoglobin dalam darah menambahmasuknya oksigen (O2) dalam darah yang dapat digunakan secara efektif dalam badan , selama adolesensi terjadi peningkatan yang besar dalam hal volume pernapasan, kapasitas, vital, dan kapasitas pernapasan maksimal untuk laki-laki, tetapi sangat kecil untuk perempuan. Peningkatan-peningkatan

Fisiologis yang terjadi pada laki-laki yang mempunyai kapasitas vital yang lebih besar dibandingkan dengan perempuan pada masa puber, hal ini sesuai dengan terjadinya pelebaran rongga dada dan pundak yang diikuti dengan pertumbuhan yang lebih cepat otot-otot dan paru-paru laki-laki.

 

 

 

d. Peningkatan Kekuatan

Perubahan-perubahan fisiologis dan pertumbuhan yang cepat di masa adolesensi peningkatan dengan perbedaan peningkatan kekuatan antara kedua jenis kelamin. Hasil penelitian yang dilakukan di universitas California oleh jones (1949) pada 90 orang anak untuk kedua jenis kelamin umur 11 sampai dengan 17,5 tahun, menyatakan bahwa pengembangan kekuatan menggenggam (hand grip), menarik dan mendorong dengan lengan antaa laki-laki dengan perempuan hamper tidak berbeda sampai umur 13 tahun, tetapi selanjutnya laki-laki bertambah lebih cepat dibandingkan dengan perempuan. Perbandingan perubahan awal dari kekuatan menggenggam untuk anak laki-laki hamper dua kali lipat disbanding anak perempuan, sedangkan kekuatan menarik dan mendorong hamper empat kali lipat besarnya.

Perkembangan kekuatan susunan masa adolesensi nampak bahwa pada perempuan tidak dapat melampaui rata-rata perkembangan kekuatan laki-laki, bahkan dapat digambarkan bahwa kekuatan yang dimiliki oleh perempuan yang terkuat dapat disamakan dengan kekuatan laki-laki yang paling lemah.

Kematangan menunjukkan ada hubungan dengan perkembangan kekuatan. Apabila pencapaian kematangan  diklasifikasikan menjadi kematangan awal,normal, dan terlambat, maka kurva pertumbuhan kekuatan pada perempuan yang berada pada klasifikasi kematangan terlambat matang selalu dibawah rata-rata pada seluruh kelompok umur. Sedangkan bagi mereka yang matang, cenderung lebih cepat perkembangan kekuatannya antara umur 11 sampai 13 tahun, tetapi sesudah perrtumbuhannya menjadi berkurang dan mereka mencapai posisi dibawah rata-rata kelompok normal. kecenderungan menurunnya kekuatan pada anak perempuan cepat matang dan lambat matang dibandingkan dengan yang normal adalah pada usia sesudah usia 13,5 tahun.

Perkembangan kekuatan dalam klasifikasi kematangan awal (cepat) normal dan lambat untuk laki-laki berhubungan dengan umur (kematangan)sekeletal. pada laki-laki yang cepat matang menunjukkan kurva kekuatan yang tidak jauh dari garis lurus (linear)dengan percepatan yang agak menurun pada umur antara 12 sampai 13,5 tahun, kemudian meningkat lagi, dan akhirnya cenderung berhenti pada pertumbuhan yang mendatar setelah umur 16 atau 17 tahun. Sedangkan pada anak laki-laki yang termasuk lambat matang yang lamban dalam setiap fungsi, kemudian diikutisuatu percepatan pada akhir umur 14 tahun. Hal tersebut juga ditandai adanya hubungan antara kekuatan dengan kematangan skeletal. Dalam pertumbuhan anak laki-laki cepat matang, perkembangan kekuatannya selalu berada diatas rata-rata kelompok sejak umur 13-16 tahun. Sedangkan bagi mereka yang termasuk lambat matang cenderung dibawah normal.

Hubungan yang rendah terjadi ntara tinggi atau berat badan dengan kekuatan kekuatan karena adanya factor-faktor lain yang mempengaruhi ukuran besarnya badan dalam menentukan kekuatan pada masa adolesensi. Puncak perkembangan yang cepat dari kekuatan anak laki-laki terjadi kira-kira 1,5 tahun sesudah puncak peningkatan tinggi badan, dan kira-kira 1(satu) tahun sesudah puncakpenambahan berat badan.

Dalam hal perkembangan power otot yang berhubungan dengan pertumbuhan tubuh dinyatakan bahwa power otot dicapai secara penuh kira-kira satu tahun sesudah pencapaian pertumbuhan tubuh sepenuhnya

 

2.2 Perkembangan Motorik Masa Remaja

2.2.1 Kemampuan Gerak

Perubahan-perubahan dalam penampilan gerak pada masa adolesensi cenderung mengikuti perubahan-perubahan dalam ukuran badan, kekuatan dan fungsi fisiologis. Perbedaan-perbedaan dalam penampilkan keterampilan gerak dasar antar kedua jenis kelamin semakin meningkat, anak laki-laki menunjukkan peningkatan yang tidak berarti, bahkan menurun setelah umur menstruasi. Hal tersebut dapat dilihat dalam berbagai gerakan, seperti lari, lompat jauh tanpa awalan, dan melempar jarak jauh. Menurut Espenchade (1060), anak perempuan mencapai hasil maksimal dalam lari pada usia 15 tahun, dan menunjukkan sedikit perubahan dalam melempar dan melompat sesudah umur tersebut.

Selanjutnya penelitian lain oleh Vincent (1968) menyatakan bahwa anak perempuan mencapai skor terbaik dalam kecepatan melempar, memantulkan bola ke tembok, dan melempar jarak jauh pada umur 15,3 tahun. Untuk lari dan lompat tinggi penampilan terbaik pada umur 14,4 tahun, sedangkan mahasiswa putri yang sehat dan segar mencapai skor tertinggi dalam lompat samping dan lompat tali pada umur 18,4 tahun. Semua itu merupakan beberapa peningkatan penampilan wanita yang terjadi setelah masa pubertas. Penampilan fisik sesudah pubertas lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan budayanya.

Umumnya penampilan gerak anak perempuan dalam keterampilan dasar cenderung menurun sebelum mencapai kematangan biologis, kira-kira 3 tahun sebelum kematangan skeletal. Sebaliknya anak laki-laki terus mengalami peningkatan penampilan geraknya dengan bertambahnya kematangan skeletal.

Kecepatan matang secara biologis laki-laki adanya hubungan dengan penampilan gerak. Umumnya anak laki-laki masa puber meningkat secara terus-menerus dan teratur dalam lari dan melompat, tetapi sedikit terlambat dalam lemparan. Hal ini berhubungan dengan serangkaian pertumbuhan fisik, seperti tungkai yang memanjang, pinggul yang melebar sebelum pengembangan bagian pundak.

Dalam lompat jauh tanpa awalan, menggaplung dengan lengan ditekuk, dan baring duduk (sit-ups) dengan lutut ditekuk anak laki-laki umur 10 sampai 16 tahun menunjukkan peningkatan yang berbeda. Peningkatan penampilan tertinggi untuk lompat jauh tanpa awalan terjadi antara umur 14 dengan 15 tahun dan umur 11 sampai 12 tahun untuk lengan menggantung dan sit-ups. Peningkatan maksimum lompat jauh tanpa awalan dan menggantung bertepatan dengan puncak percepatan pertumnbuhan tinggi badan, sedangkan peningkatan pada sit-ups 1 (satu) tahun sebelum puncak percepatan pertumbuhan tinggi badan. Peningkatan yang lebih cepat pada anggota badan sehingga secara mekanika memberikan keuntungan dalam melakukan sit-ups karena togok relatif lebih pendek.

Pertumbuhan yang cepat pada laki-laki memberikan keuntungan dalam ukuran dan bentuk tubuh, kekuatan dan fungsi fisiologis yang memberikan kemudahan dalam penampilan fisik selama masa adolensensi.

2.2.2 Koordinasi dan Keseimbangan

Peningkatan koordinasi pada anak laki-laki terus berlangsung sejalan dengan bertambahnya umur kronologis, sedangkan anak perempuan sudah tidak berkembang lagi sesudah umur 14 tahun. Kelincahan anak laki-laki lebih unggul dibandingkan anak perempuan. Kelincahan memerlukan kecepatan mengubah arah dari badan atau anggota badan, seperti melompat secara penuh kemudian memutar posisi dan gerakan-gerakan sulit yang lain.

Kelincahan wanita dewasa kurang baik dibandingkan dengan wanita yang masih muda atau anak-anak, tetapi dalam gerakan akrobatik yang memerlukan kontrol dan keseimbangan statis, wanita dewasa lebih dapat menjaga posisinya. Terjadinya penurunan kelincahan seseudah umur 14 tahun, hanya sedikit perubahan terjadi penurunan pada kontrol, kelentukan, dan keseimbangan bagi perempuan,. Pertambahnya berat badan anak perempuan pada masa puber berpengaruh negetif dalam penampilan geraknya.

Koordinasi gerak anak laki-laki pada awal pubertas mengalami perkembangan sedikit sekali, tetapi setelah itu perkembangannya makin cepat. Berbagai hasil penelitian mengenai keseimbangan dinamis selama masa  adolesensi menunjukkan bahwa keadaan yang stabil (palkteau) dialami oleh perempuan pada umur 12 sampai 14 tahun dan pada anak laki-laki umur 14 sampai 16 tahun. Perkembangan keseimbangan dinamis anak laki-laki menunjukkan bahwa sebelum umur 13 dan sesudah umur 15 tahun menunjukkan perkembangan yang lebih besar dibandingkan masa usia antaara 13 sampai 15 tahun.

 

 

2.2.3 Peningkatan Penampilan Gerak

Masa sebelum adolesensi dan adolesensi merupakan saat peningkatan, penampilan gerak, seperti lari cepat, lari jarak jauh, lompat tinggi dsb. Peningkatan secara kuantitatif ini merupakan bagian yang dihasilkan oleh pertumbuhan yang berlangsung terus, terutama pertumbuhan yang cepat dimasa adolesensi. Yang menghasilkan penngkatan kekuatan dan daya tahan. Demikian pula sumbangan diri unsur koodinasi tidak diragukan lagi dalam menunjang peningkatan keterampilan.

  1. Lari (Running)

pengukuran kuantitatif untuk kemampuan lain umumnya dilakukan dengan mengukur kecepatan, lari jarak pendek (30 yard) dan kelincahan lari. Kelincahan lari merupakan frekuensi yang dicapai seseorang dalam mengubah arah.

  1. Lompat (Jumping)

Penggunaan tes lompat umumnya kearah depan atau keatas. Penelitian yang dilakukan oleh Espenchade (1960) menunjukkan bahwa peningkatan jarak lompatan kedepan untuk laki-laki dan perempuan kira-kira 33 inci pada umur 5 tahun dan pada umur 10 sampai 11 tahun mencapai 60 inci. Sesudah itu laki-laki terus meningkat kira-kira 90 inci. Pada umur 17 tahun, sedangkan perempuan mengalami kestabilan dengan jarak kira-kira 64 inci pada umur yang sama.

  1. Lempar (Throwing)

Jarak lemparan sering digunakan untuk mengukur penampilan lempar, meskipun kecepatan dan ketepatan juga ikut dinilai. Penampilan lempar berbeda dari penampilan lari dan lompat, demikian pula perbeedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan yang terjadi sejak usia muda.

d.  .Keterampilan Dasar

Sebagian besar penelitian menyatakan,.bahwa usia untuk belajar gerak yang paling tepat adalah masa sebelum adoleseasi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Nash (1960)  yang menyatakan bahwa 85% keterampilan dasar dan minat terhadap ketramtpilan gerak harus ditemukan pada umur 12 tahun atas sebelumnya. Masa kanak-kanak merupakan waktu untuk belajar keterampilan dasar, sedangkan masa adolesensi adalah waktu yang digunakan untuk  penyempurnaan dan penghalusan serta mempelajari berbagai macam variasi ketrampilan gerak.

Keterampilan gerak .pada masa adolesensi sangat dipengaruhi oleh, penguasaan gerak dasar pada masa anak – anak, Dan oleh faktor latihan. Oleh karena itu, kecenderungan keterampilan gerak setiap individu pada masa adolesensi semakin bervariasi. Ada yang keterampilan dapat berkembang dengan baik dan ada yang perkembangannya tidak baik.

 

e.. Kesegaran Jasmani

Pads masa adolesensi terjadi perbedaan yang mencolok dalarn hasil tes, kesegaran jasmani antara laki-laki dan perempuan.

Hal tersebut dapat dilihat dalam gambar I berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penurunan kesegaran jasmani anak perempuan masa adolesensi ada kemungkinan bukan, karena kurangnya motivasi antuk memperoleh skor yang baik dalam ,tes kesegaran jasmani, meskipun sebenarnya mereka mampu melakukan. Sedikit sekali perempuan yang melakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk tes lari 600 yard atau dalam tes kekuatan sebagai unsur dalam tes kesegaran jasmani.

Seperti yang terlihat pada gambar I, penampilan kesegaran jasmani anak laki-laki meningkat seram teratur sesuai bertambahnya umur sampai kira-kira 12 tahun. Setelah umur tersebut penampilan meningkat secam cepat, sebaiknya penampilan perempuan setelah umur 12 tahun makin menurun.

Masa adolesensi merupakan saat yang baik untuk, pengembangan kesegaran jasmani. pengembangan yang terjadi merupakan basil perubahan-perubahan dalam peningkatan luasnya otot dan ukuran badan baik untuk laki-taki maupun perempuan.

Faktor latihan fisik sangat berpengaruh terhadap tingkat kesegaran jasmani. Latihan. peningkatan daya tahan Cardiovascular lebih baik dimulai Sejak awal, dan peningkatan pada masa adolesensi lebih tinggi dibandingkan masa dewasa atau dapat dikatakan bahwa cardiovascular berkembang lebih cepat dengan melakukan latihan di masa adolesensi. beberapa . hasil penelitian oleh Cooper dan kawan-kawan (1975) menyatakan, bahwa dalam program latihan aerobik menghasilkan pcningkatan cardiovascular 17,6% sampai dengan 20% untuk, anak-anak normal yang sedang berkembang dan mengalami putumbuban cepat masa adolesensi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Adolesensi merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dalam masa ini terjadi pertumbuhan yang sangat cepat sampai pada saatnya mencapai kematangan seksual, kemudian timbul fase perlambatan sampai tidak terjadi pertumbuhan lagi. Pertumbuhan yang terjadi menimbulkan perubahan ukuran, seperti proporsi bentuk tubuh, perubahan dalam komposisi tubuh, sistem peredaran darah, pernapasan, sistem syaraf, kematangam seks primer dan sekunder dan sebagainya.

Pada awal masa adolesensi perempuan lebih tinggi dan lebih berat dari laki-laki keadaan tersebut tidak terlalu lama setelah perubahan yang cepat terjadi. Pada anak laki-laki. Seterusnya laki-laki mengungguli tinggi dan berat badan perempuan, demikian pula ukuran-ukuran yang lain, seperti togok, panjang tungkai, lebar pundak, dan ukuran lengan.

Perubahan secara proporsional terjadi pada tulang dan jaringan lemak. Pertumbuhan tulang otot berjalan dengan peningkatan tinggi dan berat badan. Sedangkan penurunan volume jaringan lemak lebih nampak pada laki-laki dibabdingkan dengan perempuan.

Salahsatu perubahan fisiologis adalah denyut nadi basal yang selalu menurun secara berangsur-angsur dan sama untuk anak laki-laki dan perempuan sejak lahir, tetapi pada masa adolesensi penurunan pada laki-laki lebih cepat dibandingkan dengan perempuan sesudah umur 12 tahun.

Perbandingan perubahan awal dari kekuatan menggenggam anak laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan anak perempuan, sedangkan kekuatan menarik dan mendorong hampir empat kali lipat besarnya, meskipun sampai umur 13 tahun hampir tidak terjadi perbedaan.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber: http://rumahbelajarpsikologi.com. Diakses 17 November 2009.

Conger, J.J. (1991). Adolescence and youth (4th ed). New York: Harper Collins

Hurlock, E. B. (1973). Adolescent development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha

Advertisements

Niat Van der Vaart taklukkan Inter

Playmaker Tottenham Hotspur, Rafael van der Vaart (VDV), berambisi membalas kekalahan dari Inter Milan di leg pertama Liga Champions, dua pekan lalu. VDV yakin, jika tampil seperti di babak kedua melawan Inter (di leg pertama), timnya akan mampu meraih tiga angka di White Hart Lane, Selasa (2/10/2010).

Spurs takluk 3-4 di San Siro, Rabu (20/10/2010). Mereka tertinggal 0-4 lebih dulu di paruh pertama. Sedikit bisa dimaklumi karena Spurs harus bermain dengan sepuluh pemain setelah Heurelho Gomes diganjar kartu merah di menit-menit awal. Meski demikian, “Spurs” tak menyerah dan bangkit lewat hat-trick Gareth Bale di paruh kedua.

“Ini adalah pertandingan ketika semua lampu sorot akan menuju kepada Anda sebagai individu untuk berkreasi. Pada tahap ini kami harus tampil baik untuk menunjukkan bahwa kami berhak berada di sini, ” ujar Van der Vaart.

“Tidak, ini tidak akan mudah. Bagaimana mungkin mudah? Lawan kami adalah Inter Milan di Liga Champions. Tapi, kami telah menunjukkan semangat juang kami. Kami juga sudah menunjukkan bahwa segala sesuatu dalam sepak bola mungkin terjadi jika Anda memiliki keyakinan untuk mewujudkannya.”

“Kami membuktikan bahwa dengan 10 orang kami mampu melawan Inter yang sangat bagus di leg pertama. Kami mungkin bisa membuat skor menjadi 4-4, jika ada tambahan waktu lima menit. Kami memiliki momentum menuju akhir pertandingan dan kami harus menjaga penampilan seperti itu dari awal saat bermain di depan pendukung kami sendiri,” sambung pemain internasional Belanda tersebut.

“Pemain besar mencintai pertandingan besar dan kami harus menunjukkan bahwa kami memiliki kualitas itu,” tuntas Van de Vaart.

VDV sendiri sebenarnya sempat diragukan tampil lawan Inter karena mengalami cedera, Sabtu (29/10/2010). Namun, ia telah mulai berlatih pada Senin (1/10/2010) dan kemungkinan besar ia akan mengomandoi Spurs saat menjamu “I Nerazzurri”.

via Kompas

evaluasi pembelajaran

BAB I

LATAR BELAKANG

Evaluasi mau tidak mau menjadi hal yang penting dan sangat di butuhkan dalam proses belajar mengajar, karena evaluasi dapat mengukur seberapa jauh kebehasilan anak didik dalam menyerap materi yang di ajarkan, dengan evaluasi, maju dan mundurnya kualitas pendidikan dapat di ketahui, dan dengan evaluasi pula, kita dapat mengetahui titik kelemahan serta mudah mencari jalan keluar  untuk berubah lebih baik kedepan.

Tanpa evaluasi, kita tidak bisa mengetahui seberapa jauh keberhasilan siswa, dan tanpa evaluasi pula kita tidak akan ada perubahan menjadi lebih baik,maka dari itu di makalah ini akan coba di bahas

·         Pengertian evaluasi

·         Tujuan dan fungsi evaluasi

·         Teknik evaluasi dan lain sebagainya

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dan menjadikan pendidikan ke depan lebih baik dan lebih maju dalam menyongsong kemajuan zaman globalisasi.

BAB II

PEMBAHASAN

PENGEMBANGAN SISTEM EVALUASI

1. PENGERTIAN EVALUASI

Tidak ada satupun guru yang tidak ingin berhasil dalam proses mengajar, tentunya semua guru sangat mengharapkan sekali keberhasilan belajar mengajar itu, guru yang masa bodoh terhadap anak didiknya adalah cermin kurang tanggung jawabnya seorang guru menjabat sebagai profesinya, gurung yang tidak mau tahu dengan perkembangan pendidikan anak didiknya adalah tanda guru yang tidak peduli taerhadap tantangan zaman yang terus merongrong anak didiknya.

Walaupun ada terobosan baru metode belajar yang bagus, seperti yang di pelopori oleh bobby de porter dalam quantum learningnya, tetapi itu saja tidak cukup, metode yang bagus saja tidak cukup tanpa evaluasi, maka evaluasi sangat  di butuhkan sekali dalam pendidikan.

Dalam sebuah buku yang berjudul teknik evaluasi pendidikan karya M.chabib thoha, beliau mengatakan bahwa Evaluasi berasal dari kata evaluation yang berarti suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu, apakah sesuatu itu mempunyai nilai atau tidak. Menurut istilah evaluasi berarti kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur tertentu guna memperoleh kesimpulan. Evaluasi pendidikan dan pengajaran adalah proses kegiatan untuk mendapatkan informasi data mengenai hasil belajar mengajar yang dialami siswa dan mengolah atau menafsirkannya menjadi nilai berupa data kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan standar tertentu. Hasilnya diperlukan untuk membuat berbagai putusan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

Selain pengertian di atas ternyata pengertian evaluasi pendidikan merupakan proses yang sistematis dalam :

&   Mengukur tingkat kemajuan yang dicapai siswa, baik ditinjau dari norma tujuan maupun dari norma kelompok

&   Menentukan apakah siswa mengalami kemajuan yang memuaskan kearah pencapaian tujuan pengajaran yang diharapkan.

Bukan hanya seperti di katakan di atas saja pengertian evaluasi, tetapi ada beberapa istilah yang serupa dengan evaluasi itu, yang intinya masih mencakup evaluasi, yaitu di antaranya:

&    Measurement / pengukuran diartikan sebagai proses kegiatan untuk menentukan luas atau kuantitas sesuatu untuk mendapatkan informasi atau data berupa skor mengenai prestasi yang telah dicapai siswa pada periode tertentu dengan menggunakan berbagai tekhnik dan alat ukur yang relevan.

&    Tes secara harfiah diartikan suatu alat ukur berupa sederetan pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur kemampuan, tingkah laku, potensi, prestasi sebagai hasil pembelajaran.

&    Assessment adalah suatu proses pengumpulan data dan pengolahan data tersebut menjadi suatu bentuk yang dapat dijelaskan.

2. TUJUAN DAN FUNGSI EVALUASI

segala sesuatu yang di lakukan pasti mempunyai tujuan dan fungsi yang akan di capai, pastinya semua aktifitas tidak ingin hasilnya sia-sia, begitupun dengan evaluasi, ada tujuan dan fungsi yang ingin di capai, Evaluasi telah memegang peranan penting dalam pendidikan antara lain memberi informasi yang dipakai sebagai dasar untuk :

&   Membuat kebijaksanaan dan keputusan

&   Menilai hasil yang dicapai para pelajar

&   Menilai kurikulum

&   Memberi kepercayaan kepada sekolah

&   Memonitor dana yang telah diberikan

&   Memperbaiki materi dan program pendidikan

Dr.muchtar buchori Med. Mengemukakan bahwa tujuan khusus evaluasi pendidikan ada 2  yaitu :

&   Untuk mengetahui kemajuan peserta didik setelah ia mengalami pendidikan selam jangka waktu tertentu

&   Untuk mengetahui tingkat efisiensi metode-metode pendidikan yang dipergunakan pendidik selam jangka waktu tertentu tadi.

Maju da munjuan belajar peserta didik, dapat diketahui pula kedudukan mereka dalam kelompoknya dan juga dapat dipakai pula untuk mengadakan perencanaan yang realistik dalam mengarahkan dan mengembangkan masa depan mereka. Selanjutnya dengan diketahuinya efektifitas dan efisiensi metode-metode yang digunakan dalam pendidikan, guru telah mendapatkan pelajaran yang cukup berharga untuk menyempurnakan metode-metode yang sudah baik, dan memperbaiki kekurangan-kekurangan metode yang tidak efektif.

FUNGSI EVALUASI BERSIFAT EVALUATIF

a.           Fungsi prognostik yaitu meramalkan sesuatu dalam menghadapi langkah selanjutnya

b.           Fungsi diagnostik yaitu evaluasi yang bertujuan yang bertu11/21/2006juan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa serta penyebabnya

c.           Fungsi judgement yaitu evaluasi yang dilakukan untuk menetukan keberhasilan siswa atau tes penentuan akhir.

Fungsi evaluasi bagi siswa

Bagi siswa, evaluasi digunakan untuk mengukur pencapaian keberhasilannya dalam mengikuti pelajaran yang telah diberikan oleh guru. Dalam hal ini ada dua kemungkinan :

a.         Hasil bagi siswa yang memuaskan

Jika siswa memperoleh hasil yang emuaskan, tentunya kepuasan ini ingin diperolehnya kembali pada waktu yang akan datang. Untuk ini siswa akan termotifasi untuk belajar lebih giat agar perolehannya sama bahkan meningkat pada masa yang akan datang. Namun, dapat pula terjadi sebaliknya, setelah memperoleh hasil yang memuaskan siswa tidak rajin belajar sehingga pada waktu berikutnya hasilnya menurun.

b.         Hasil bagi siswa yang tidak memuaskan

Jika siswa memperoleh hasil yang tidak memuaskan, maka pada kesempatan yang akan datang dia akan berusaha memperbaikinya. Oleh karena itu, siswa akan giat belajar. Tetapi bagi siswa yang kurang motivasi atau lemah kemauannya akan menjadi putus asa

Fungsi evaluasi bagi guru

a.           Dapat mengetahui siswa manakah yang menguasai pelajran dan siswa mana pula yang belum. Dalam hal ini hendaknya guru memberikan perhatian kepada siswa yang belum berhasil sehingga pada akhirnya siswa mencapai keberhasilan yang diharapkan.

b.           Dapat mengetahui apakah tujuan dan materi pelajaran yang telah disampaikan itu dikuasai oleh siswa atau belum.

c.           Dapat mengetahui ketepatan metode yang digunakan dalam menyajikan bahan pelajaran tersebut.

d.           Bila dari hasil evaluasi itu tidak berhasil, maka dapat dijadikan bahan remidial. Jadi, evaluasi dapat dijadikan umpan balik pengajaran.

Fungsi evaluasi bagi sekolah

a.         Untuk mengukur ketepatan kurikulum atau silabus. Melalui evaluasi  terhadap pengajaran yang dilakukan oleh guru, maka akan dapat diketahui apakah ketepatan kurikulum telah tercapai sesuai dengan target yang telah ditentukan atau belum. Dari hasil penilaian tersebut juga sekolah dapat menetapkan langkah-langkah untuk perencanaan program berikutnya yang lebih baik.

b.         Untuk mengukur tingkat kemajuan sekolah. Sudah barang tentu jika hasil penilaian yang dilakukan menunjukkan tanda-tanda telah terlaksananya kurikulum sekolah dengan baik, maka berarti tingkat ketepatan dan kemajuan telah tercapai sebagaimana yang diharapkan. Akan tetapi sebaliknya jika tand-tanda itu menunjukkan tidak tercapainya sasaran yang diharapkan, maka dapat dikatakan bahwa tingkat ketepatan dan kemajuan sekolah perlu ditingkatkan.

c.         Mengukur keberhasilan guru dalam mengajar. Melalui evaluasi yang telh dilaksanakan dalam pengajaran merupakan bahan informasi bagi guru untuk mengetahui tingkat keberhasilan dalam melaksanakan pengajaran.

d.         Untuk meningkatkan prestasi kerja. Keberhasilan dan kemajuan yang dicapai dalm pengajaran akan mendorong bagi sekolah atau guru untuk terus meningkatkan prestasi kerja yang telah dicapai dan berusaha memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang mungkin terjadi.

Dalam evaluasi semua komponen dalam pendidikan layak dan harus dijadikan sebagai objek dan subjek evaluasi pendidikan, yaitu :

§        Siswa, dapat menjadi subjek evaluasi bagi dirinya sendiri dan bagi guru serta sekolahnya dan dapat juga menjadi bagian dari objek evaluasi yang dilakukan oleh guru dan sekolahnya.

§        Guru, dapat menjadi subjek evaluasi bagi program dan cara-cara dia mengajar, keberhasilannya dan juga dpat menjadi objek evaluasi oleh siswa dan sekolahnya.

§        Sekolah, dapat menjadi subjek evaluasi bagi siswa dan guru-guru yang ada didalamnya serta dapat juga menjadi sasaran atau objek evaluasi dari siswa dan guru yang bernaung  didalamnya.

Setelah semua tugas evaluasi kita lakukan kita akan banyak memetik manfaat dari evaluasi itu, baik bagi siswa, guru maupun sekolah yang seandainya kita mengambil benang merah dari nya kita akan mengetahui apa-apa yanga harus dan yang tidak harus lagi kita lakukan untuk kedepannya.

3. TEKNIK EVALUASI PENDIDIKAN

tentunya, evaluasi mempunyai beberapa teknik yang berusaha mencari solusi lebih baik dalam mengejar keerhasilan belajar. Pada dasarnya evaluasi itu dapat dibedakan menjadi dua macam bentuk tes yaitu :

&   Teknik non tes

&   Teknik tes

teknik non tes

Maksudnya adalah penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik, melainkan dengan cara :

&   skala bertingkat

Yang dimaksud dengan skala bertingkat atau rating scala adalah tes yang digunakan untuk mengukur kemampuan anak didik berdasarkan tingkat tinggi rendahnya penguasaan dan penghayatan pembelajaran yang telah diberikan

&   Daftar cocok

Maksudnya adalah suatu tes yang berbentuk daftar pertanyaan yang akan dijawab dengan membubuhkan tad cocok (x) pada kolom yang telah disediakan.

&   Wawancara

Maksudnya adalah semua proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain, mendengar dengan telinganya sendiri suaranya.

&   Daftar angket

Maksudnya adalah bentuk tes yang berupa daftar pertanyaan yang diajukan pada responden, baik berupa keadaan diri, pengalaman, pengetahuan, sikap dn pendapatnya tentang sesuatu.

&   Pengamatan (observasi)

Maksudnya adalah teknik evaluasi yang dilakukan dengan cara meneliti secara cermat dan sistematis. Dengan menggunakan alat indra dapat dilakukan pengamatan terhadap aspek-aspek tingkah laku siswa disekolah. Oleh karena pengamatan ini bersifat langsung mengenai aspek-aspek pribadi siswa, maka pengamtan memiliki sifat kelebihan dari alat non tes lainnya.

&   Riwayat hidup

Ini adalah salah satu tehnik non tes dengan menggunakan data pribadi seseorang sebagai bahan informasi penelitian. Dengan mempelajari riwayat hidup maka subjek evaluasi akan dpat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian, kebiasaan dan sikap dari objek yang dinilai.

teknik tes

Tehnik tes adalah satu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau merangkai tugas yang harus dikerjakan oleh anak didik atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.

&   Tes subjektif

Tes ini sering pula diartikan sebagai tes essay yaitu tes hasil belajar yang terdiri dari suatu pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang bersifat uraian dan atau penjelasan. Secara umum tes uraian ini adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan, penjelasan, mendiskusikan, membandingkan, memberi alasan, dan bentuk lain sejenis sesuai dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Dengan demikian, dalam tes ini dituntut kemampuan siswa dalam mengekspresikan gagasannya melalui bahasa tulisan.

&   Tes objektif

Maksudnya adalah adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatsi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk essay. Dalam penggunaan tes objektif ini jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak dari pada tes essay.

Tes objektif disebut juga dengan istilah short answer test atau new type test. Yang terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan cara memilih diantara alternatif jawaban yang dianggap benar dan paling benar.

BAB III

KESIMPULAN & SARAN

KESIMPULAN

Evaluasi menjadi hal yang penting dalam proses belajar mengajar, karena tanpa evaluasi akan susah sekali mengukur tingkat keberhasilannya.

Evaluasi pendidikan merupakan proses yang sistematis dalam Mengukur tingkat kemajuan yang dicapai siswa, baik ditinjau dari norma tujuan maupun dari norma kelompok serta Menentukan apakah siswa mengalami kemajuan yang memuaskan kearah pencapaian tujuan pengajaran yang diharapkan.

SARAN

&   Gunakan evaluasi sefektif mungkin supaya efektif dan efesian

&   Carilah evaluasi yang menarik bagi anak didik supaya anak didik merasa nyaman dan tidak terbebani

&   Jadikan evaluasi sebagai alat kontrol untuk kemajuan pendidikan

&   Ridwan sakni.pengembangan system evaluasi.P3RF.IAIN Raden Fatah Plaembang

&   Farida yusuf toyib.2000.evaluasi program.PT Rineka cipta

&   M.Chabib thoha.2001.rajawali press

&   R.ibrohim dan nana syaodih.1996.rineka cipta

&   Kosadi hidayat dkk. 1996. Evalusi pendidikan dan penerapannya dalam pengajaranbahasa Indonesia.alfabeta

Pada dasarnya evaluasi merupakan proses penyusunan deskripsi siswa,baik secara kuantitatif maupun secara kulaitatif.Secara lugas evaluasi untuk mengukur kemampuan ranah cipta,rasa,dan karsa siswa.

http://dokumens.multiply.com/journal/item/34

http://sutisna.com/psikologi/psikologi-pendidikan/tujuan-dan-fungsi-evaluasi/

1. Tujaun Evaluasi

1. Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu.

2. Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa di dalam kelompok kelasnya.apakah sisiwa tersebut termasuk kategori lambat,sedang,atau cepat.

3. Untuk mengetahui tingkat usaha yang dilakukan seorang siswa dalam belajar.apakah menunjukan tingkat usaha yang efisien atau tidak.

4. Untuk mengetahui hingga sejauh mana seorang siswa telah mendayagunakan kafasitas kognitifnya.

5. Untuk mengetahui tingkat daya guna dan hasil guna metode mengajar yang telah digunakan oleh seorang guru dalam proses belajar-mengajar.

2. Fungsi Evaluasi

Selain memiliki tujuan, evalausi belajar juga memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut.

1. Fungsi administratif untuk penyusunan daftr nilai dan pengisian buku raport

2. Fungsi promosi untuk menetapkan kenaikan atau kelulusan

3. Fungsi diagnostik untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan merencanakan program pengajaran perbaikan (ramedial teaching)

4. Fungsi psikologis untuk mengatasi kekurangmampuan atau ketidakmampuan dalam menilai kemampuan atau kemajuan dirinya sendiri.

5. Sumber data BP untuk memasok data siswa tertentu yang memerlukan simbingan dan penyuluhan (BP)

6. Bahan pertimbangan pengembangan kurikulum,metode,dan alat-alat PBM.

7. Bahan pertimbangan bagi orang tua untuk mengenali hasil usha dan tanggung jawabnya dalam mengembangkan potensi anaknya.

Fungsi Evaluasi

Sejalan dengan tujuan evaluasi di atas, evaluasi yang dilakukan juga memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah fungsi:

1. Selektif

2. Diagnostik

3. Penempatan

4. Pengukur keberhasilan

Selain keempat fungsi di atas Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menyatakan masih ada fungsi-fungsi lain dari evaluasi pembelajaran, yaitu fungsi:

1. Remedial

2. Umpan balik

3. Memotivasi dan membimbing anak

4. Perbaikan kurikulum dan program pendidikan

5. Pengembangan ilmu

D. Manfaat Evaluasi

Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran, yaitu :

1. Memahami sesuatu : mahasiswa (entry behavior, motivasi, dll), sarana dan prasarana, dan kondisi dosen

2. Membuat keputusan : kelanjutan program, penanganan “masalah”, dll

3. Meningkatkan kualitas PBM : komponen-komponen PBM

Sementara secara lebih khusus evaluasi akan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, dan kepala sekolah.
Bagi  Siswa

Mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran : Memuaskan atau tidak memuaskan

Bagi Guru

1. mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuan : melanjutkan, remedial atau pengayaan

2. ketepatan materi yang diberikan : jenis, lingkup, tingkat kesulitan, dll.

3. ketepatan metode yang digunakan

Bagi Sekolah

1. hasil belajar cermin kualitas sekolah

2. membuat program sekolah

3. pemenuhan standar

http://aderusliana.wordpress.com/2007/11/05/konsep-dasar-evaluasi-hasil-belajar/

 

 

 

Sistem Energi Dan Metabolisme Energi Dalam Olahraga

PENDAHULUAN

1.       Latar Belakang

Manusia dalam melakukan kegiatan/aktivitas setiap hari membutuhkan energi, baik untuk bergerak maupun untuk bekerja. Kemampuan tubuh manusia untuk melangsungkan kegiatannya dipengaruhi oleh struktur fisiknya. Tubuh manusia terdiri dari struktur tulang, otot, syaraf, dan proses metabolisme. Rangkah tubuh manusia disusun dari 206 tulang yang berfungsi untuk melindungi dan melaksanakan kegiatan fisiknya, dimana tulang-tulang tersebut dihubungkan dengan sendi-sendi otot yang dapat berkontraksi. Otot-otot ini berfungsi mengubah energi kimia menjadi energi mekanik, dimana kegiatannya dikontrol oleh sistem syaraf sehingga dapat bekerja secara optimal.

Hasil dari proses metabolisme yang terjadi di otot, berupa kumpulan proses kimia yang mengubah bahan makanan menjadi dua bentuk, yaitu energi mekanik dan energi panas. Proses dari pengubahan makanan dan air menjadi bentuk energi. Bahan makanan yang diproses pada sistem pencernaan yang meliputi Lambung diruai/dihaluskan menjadi seperti bubur, kemudian masuk ke usus halus untuk diserap bahan-bahan makanan tersebut yang selanjutnya masuk ke sistem peredaran darah, menuju ke sistem otot.

Begitu juga dengan udara yang dihirup melalui hidung akan masuk ke paru-paru/sistem pernafasan, dimana zat oksigen yang turut masuk ke paru-paru selanjutnya oleh paru-paru dikirim ke sistem peredaran darah. Selain itu paru-paru berfungsi juga untuk mengambil karbon dioksida dari sistem peredaran darah untuk dikeluarkan dari dalam tubuh. Selanjutnya oksigen yang telah berada di sistem peredaran darah dikirimkan ke sistem otot, yang akan bertemu dengan zat gizi untuk beroksidasi menghasilkan energi.

Selain menghasil energi, proses ini menghasilkan juga asam laktat yang dapat menghambat proses metabolisme pembentukan energi selanjutnya. Selama kebutuhan oksigen terpenuhi proses metabolisme, oksigen sisa yang ada di dalam darah digunakan untuk menguraikan asam laktat menjadi glikogen untuk digunakan kembali menghasilkan energi kembali.

Kemudian bila dilihat dari proses tempat terjadinya pembentukan energi pada tubuh manusia, maka perlu dijelaskan mekanisme pada tingkat sel. Hal ini dipandang perlu, agar konsep pembentukan energi tenaga dalam yang akan diterangkan pada edisi berikutnya dapat dipahami dengan baik.

Bila ditinjau pada tingkat sel, tubuh manusia disusun dari 100 triliun sel dan mempunyai sifat dasar tertentu yang sama. Setiap sel digabung oleh struktur penyokong intrasel, dan secara khbusus beradaptasi untuk melakukan fungsi tertentu. Dari total sel yang ada tersebut, 25 triliun sel merupakan sel darah merah yang mempunyai fungsi sebagai alat tranportasi bahan makanan dan oksigen di dalam tubuh dan membawa karbon dioksida menuju paru-paru untuk dikeluarkan.

Disamping itu, hampir semua sel juga mempunyai kemampuan untuk berkembang biak,
walaupun sel-sel tertentu rusak karena suatu sebab, sel-sel yang tersisa dari jenisnya akan membelah diri secara kontinyu sampai jumlah yang sesuai/membentuk seperti semula. Semua sel menggunakan oksigen sebagai salah satu zat utama untuk membentuk energi, dimana mekanisme umum perubahan zat gizi menjadi energi di semua sel pada dasarnya sama.

Bahan makanan yang berupa karbohidrat, lemak, dan protein yang dioksidasi akan menghasilkan energi. Energi dari karbohidrat, lemak, dan protein semuanya digunakan untuk membentuk sejumlah besar Adenosine TriPosphate (ATP), dan selanjutnya ATP tersebut digunakan sebagai sumber energi bagi banyak fungsi sel. Bila ATP di urai secara kimia sehingga menjadi Adenosine DiPosphate (ADP) akan menghasilkan energi sebesar 8 kkal/mol, dan cukup untuk berlangsungnya hampir semau langkah reaksi kimia dalam tubuh. Beberapa reaksi kimia yang memerlukan energi ATP hanya menggunakan beberapa ratus kalori dari 8 kkal yang tersedia, sehingga sisa energi ini hilang dalam bentuk panas. Beberapa fungsi utama ATP sebagai sumber energi adalah untuk mensintesis komponen sel yang penting, kontraksi otot, dan transport aktif untuk melintasi membran sel.

Bila dilihat secara persentase, energi yang menjadi panas sebesar 60% selama pembentukan ATP, kemudian lebih banyak lagi energi yang menjadi panas sewaktu dipindahkan dari ATP ke sistem fungsional sel. Sehingga hanya 25% dari seluruh energi dari makanan yang digunakan oleh sistem fungsional sel.

2.       Rumusan masalah

  • Sistem energi dan metabolisme energi dalam olahraga?
  • Sumber energi dalam olahraga?
  • Kecepatan pruduksi energi dalam olahraga?
  • Metabolisme aerobik?
  • Metabolisme anaerobik?

3.       Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini agar kita dapat mengetahui tentang metabolisme energi dalam tubuh kita beserta sistem energi mulai dari glikolisis aerob dan anaerob. Selain itu pembaca dapat mengetahui  juga sumber – sumber energi  yang menghasilkan energi  beserta kecepatan produksinya.

PEMBAHASAN

A. Sistem Energi Dan Metabolisme Energi Dalam Olahraga

Saat sedang  berolahraga terdapat dua simpanan energi utama yang  akan digunakan oleh tubuh untuk menghasilkan energi yaitu simpanan karbohidrat dan lemak. Simpanan karbohidrat terdapat  dalam jumlah yang terbatas di dalam tubuh yaitu sekitar 0.5 kg dan  tersimpan dalam bentuk glikogen otot, glikogen hati dan glukosa darah. Sedangkan lemak dalam jumlah yang besar  akan tersimpan di dalam jaringan adipose dan di dalam otot sebagai triasilgliserol.

Proses produksi energi di dalam sel otot akan  berlangsung  tepatnya  di dalam mitokondria sel. Di dalam mitokondria, lemak atau karbohidrat akan dioksidasi atau dalam istilah yang lebih popular akan di ‘bakar’ untuk menghasilkan molekul energi ATP ( adenosin trifosfat ) yang merupakan sumber energi di dalam sel-sel tubuh.

Selama berolahraga, secara ideal energi harus dapat diperoleh oleh sel-sel otot dengan laju yang sama dengan kebutuhannya. Adanya ketidakseimbangan antara laju pemakaian energi dengan pergantian atau jumlah persediaan  energi akan mengurangi kerja maksimal otot sehingga secara perlahan intensitas olahraga akan menurun dan tubuh akan terasa lelah akibat dari  terjadinya ketidakseimbangan neraca energi.

B. Sumber Energi Dalam Olahraga

Kebutuhan energi pada saat berolahraga dapat dipenuhi melalui sumber-sumber energi yang tersimpan di dalam tubuh yaitu melalui pembakaran karbohidrat, pembakaran lemak, serta kontribusi sekitar 5% melalui pemecahan protein. Diantara ketiganya, simpanan protein bukanlah merupakan sumber energi yang langsung dapat digunakan oleh tubuh dan protein baru akan terpakai jika simpanan karbohidrat ataupun lemak tidak lagi mampu untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh tubuh. Penggunaan antara lemak ataupun karbohidrat oleh tubuh sebagai sumber energi untuk dapat mendukung kerja otot akan ditentukan oleh 2 faktor yaitu intensitas serta durasi olahraga yang dilakukan.

Pada olahraga intensitas rendah (ą25 VO max) dengan waktu durasi yang panjang seperti jalan kaki atau lari-lari kecil, pembakaran lemak akan memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat dalam hal produksi energi tubuh. Namun walaupun lemak akan berfungsi sebagai sumber energi utama tubuh dalam olahraga dengan intensitas rendah, ketersediaan karbohidrat tetap akan dibutuhkan oleh tubuh untuk menyempurnakan pembakaran lemak serta untuk mempertahankan level glukosa darah.

Pada olahraga intensitas moderat-tinggi yang bertenaga seperti sprint atau juga pada olahraga beregu seperti sepakbola atau bola basket , pembakaran karbohidrat akan berfungsi sebagai sumber energi utama tubuh dan akan memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pembakaran lemak dalam memproduksi energi di dalam tubuh. Kontribusi pembakaran karbohidrat sebagai sumber energi utama tubuh akan meningkat hingga sebesar 100% ketika intensitas olahraga berada pada rentang 70-95% VO max.

Glikogen merupakan simpanan karbohidrat dalam bentuk glukosa di dalam tubuh yang berfungsi sebagai salah satu sumber energi. Terbentuk dari mokekul glukosa yang saling mengikat dan membentuk molekul yang lebih kompleks, simpanan glikogen memilik fungsi sebagai sumber energi tidak hanya bagi kerja otot namun juga merupakan sumber energi bagi sistem pusat syaraf dan otak.

Di dalam tubuh, jaringan otot dan hati merupakan dua kompartemen utama yang digunakan oleh tubuh untuk menyimpan glikogen. Pada jaringan otot,glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 1% dari total massa otot sedangkan di dalam hati glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 8-10% dari total massa hati. Walaupun memiliki persentase yang lebih kecil namun secara total jaringan otot memiliki jumlah glikogen 2 kali lebih besar di bandingkan dengan glikogen hati.

Pada jaringan otot, glukosa yang tersimpan dalam bentuk glikogen dapat digunakan secara langsung oleh otot tersebut untuk menghasilkan energi. Begitu juga dengan hati yang dapat mengeluarkan glukosa apabila dibutuhkan untuk memproduksi energi di dalam tubuh. Selain itu glikogen hati juga mempunyai peranan yang penting dalam menjaga kesehatan tubuh yaitu berfungsi untuk menjaga level glukosa darah.

Sebagai sumber energi simpanan glikogen yang terdapat di dalam tubuh secara langsung akan mempengaruhi kapasitas/ performa seorang atlet saat menjalani program latihan ataupun juga saat pertandingan. Secara garis besar hubungan antara konsumsi karbohidrat, simpanan glikogen dan performa olahraga dapat di simpulkan sebagai berikut:

  • Konsumsi karbohidrat yang tinggi akan meningkatkan simpanan glikogen tubuh.
  • Semakin tinggi simpanan glikogen maka kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas fisik juga akan semakin meningkat
  • Level simpanan glikogen tubuh yang rendah menurunkan/membatasi kemampuan atlet untuk mempertahankan intensitas dan waktu latihannya.
  • Level simpanan glikogen tubuh yang rendah menyebabkan atlet menjadi cepat lelah jika dibandingkan dengan seorang atlet dengan simpanan glikogen tinggi.
  • Konsumsi karbohidrat setelah latihan/pertandingan akan mempercepat penyimpanan glikogen yang kemudian juga akan mempercepat proses pemulihan(recovery) seorang atlet.

a. Protein

Protein merupakan salah satu jenis nutrisi yang mempunyai fungsi penting sebagai bahan dasar bagi pembentukan jaringan tubuh atau bahan dasar untuk memperbaiki jaringan-jaringan tubuh yang telah rusak. Selain dari kedua fungsi tersebut, protein juga akan mempunyai fungsi sebagai bahan pembentuk hormon dan pembentuk enzim yang akan kemudian juga akan terlibat dalam berbagai proses metabolisme tubuh. Kebutuhan protein bagi seorang atlet disebutkan berada berada pada rentang 1.2-1.6 gr/kg berat badan per-harinya dan nilai ini berada diatas kebutuhan protein bagi non-atlet yaitu sebesar 0.6-0.8 gr/kg berat badan.

Peningkatkan kebutuhan protein bagi atlet ini disebabkan oleh karena atlet lebih beresiko untuk mengalami kerusakan jaringan otot terutama saat menjalani latihan/pertandingan olahraga yang berat. Selain itu pada olahraga yang bersifat ketahanan (endurance) dengan durasi panjang sebagian kecil asam amino dari protein juga akan digunakan sebagai sumber energi terutama saat simpanan glikogen sudah  semakin berkurang. Oleh karena hal-hal tersebut diatas maka kebutuhkan konsumsi protein seorang atlet dalam kesehariannya akan relatif lebih besar jika dibandingkan dengan kebutuhan non-atlet.

Pengunaan protein sebagai sumber energi tubuh saat berolahraga biasanya akan dicegah karena hal tersebut akan menganggu fungsi utamanya sebagai bahan pembangun tubuh dan fungsiya untuk memperbaiki jaringan-jaringan tubuh yang rusak. Dan dalam hubungannya dengan laju produksi energi di dalam  tubuh, pemecahan protein jika dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat maupun lemak juga hanya akan memberikan kontribusi yang relatif kecil.

Pada saat berolahraga terutama olahraga yang bersifat ketahanan, protein dapat memberikan kontribusi sebesar 3-5% dalam produksi energi tubuh dan kontribusinya ini dapat mengalami peningkatan melebihi 5% apabila simpanan glikogen & glukosa darah sudah semakin berkurang sehingga tidak lagi mampu untuk mendukung kerja otot. Melalui asam amino yang dilepas oleh otot atau yang berasal dari jaringan-jaringan tubuh lainnya, liver (hati) melalui proses gluconeogenesis dapat mengkonversi asam amino atau substrat lainya menjadi glukosa untuk kemudian mengeluarkannya ke dalam aliran darah agar konsentrasi glukosa darah dapat dipertahankan pada level normal.

Namun pengunaan protein sebagai sumber energi seperti yang telah disebutkan akan mengurangi fungsi utamanya sebagai bahan pembangun tubuh serta juga fungsinya untuk memperbaiki jaringan-jaringan tubuh yang rusak. Selain itu, pembakaran protein sebagai sumber energi juga akan memperbesar resiko terjadinya dehidrasi akibat dari adanya produk samping berupa nitrogen yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh melalui urine. Oleh karena itu untuk mencegah pemakaian protein secara berlebihan sebagai sumber energi saat berolahraga, seorang atlet diharapkan untuk mengkonsumsi karbohidrat yang cukup agar dapat meningkatkan simpanan glikogen dan juga dapat menjaga level glukosa darah di dalam tubuh.

b. Lemak

Di dalam tubuh, lemak dalam bentuk trigliserida akan tersimpan dalam jumlah yang terbatas pada jaringan otot dan akan tersimpan dalam jumlah yang cukup besar pada jaringan adipose. Ketika sedang berolahraga, trigliserida yang tersimpan ini dapat terhidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak bebas (free fatty acid / FFA) untuk kemudian menghasilkan energi.

Pada olahraga dengan intensitas rendah sepeti jalan kaki atau lari-lari kecil, ketika kebutuhan energi rendah dan kecepatan ketersediaan energi bukanlah merupakan hal yang penting, simpanan lemak akan memberikan kontribusi yang besar sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Kontribusi simpanan lemak sebagai sumber energi tubuh baru akan berkurang apabila terjadi peningkatan intensitas dakam berolahraga.

Pada saat terjadinya peningkatan intensitas olahraga yang juga akan meningkatkan kebutuhan energi, pembakaran lemak akan memberikan kontribusi yang lebih kecil jika dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan energi di dalam tubuh. Walaupun pembakaran lemak ini memberikan kontribusi yang lebih kecil jika dibandingkan dengan pembakaran karbohidrat saat intensitas olahraga meningkat, namun kuantitas lemak yang terbakar tetap akan lebih besar jika dibandingkan saat berolahraga dengan intensitas rendah.

Pada saat berolahraga kompetitif dengan intensitas tinggi, pengunaan lemak sebagai sumber energi tubuh akibat dari mulai berkurangnya simpanan glikogen otot dapat menyebabkan tubuh terasa lelah sehingga secara perlahan intensitas olahraga akan  menurun. Hal ini disebabkan karena produksi energi melalui pembakaran lemak berjalan lebih lambat jika dibandingkan dengan laju produksi energi melalui pembakaran karbohidrat walaupun pembakaran lemak akan menghasilkan energi yang lebih besar (9kkal/gr) jika dibandingan dengan pembakaran karbohidrat (4 kkal/gr). Perlu juga untuk diketahui bahwa jaringan adipose dapat menghasilkan asam lemak bebas dalam jumlah yang tidak terbatas, sehingga kelelahan serta penurunan performa yang terjadi pada saat berolahraga tidak akan disebabkan oleh penurunan simpanan lemak tubuh.

c. Karbohidrat

Karbohidrat merupakan nutrisi sumber energi yang tidak hanya berfungsi untuk mendukung aktivitas fisik seperti berolahraga namun karbohidrat juga merupakan sumber energi utama bagi sitem pusat syaraf termasuk otak. Di dalam tubuh, karbohidrat yang dikonsumsi oleh manusia dapat tersimpan di dalam hati dan otot sebagai simpanan energi dalam bentuk glikogen. Total karbohidrat yang dapat tersimpan di dalam tubuh orang dewasa kurang lebih sebesar 500 gr atau mampu untuk menghasilkan energi sebesar 2000 kkal. Di dalam tubuh manusia, sekitar 80% dari karbohidrat ini akan tersimpan sebagai glikogen di dalam otot, 18-22% akan tersimpan sebagai glikogen di dalam hati dan sisanya akan bersirkulasi di dalam aliran darah dalam bentuk glukosa.

Pada saat berolahraga terutama olahraga dengan intensitas moderat-tinggi, kebutuhan energi bagi tubuh dapat terpenuhi melalui simpanan glikogen, terutama glikogen otot serta melalui simpanan glukosa yang terdapat di dalam aliran darah (blood glucose) dimana ketersediaan glukosa di dalam aliran darah ini dapat dibantu oleh glikogen hati agar levelnya tetap berada pada keadaan normal. Proses pembakaran 1 gram karbohidrat akan menghasilkan energi sebesar 4 kkal. Walaupun nilai ini relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan energi hasil pembakaran lemak, namun proses metabolisme energi karbohidrat akan mampu untuk menghasilkan ATP (molekul dasar pembentuk energi) dengan kuantitas yang lebih besar serta dengan laju yang lebih cepat jika dibandingkan dengan pembakaran lemak.

d. Simpanan karbohodrat ( glikogen )

Jumlah simpanan glikogen yang terdapat di dalam tubuh merupakan salah satu faktor penentu performa seorang atlet . Atlet yang mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang besar dalam sehari-hari akan memilki simpanan glikogen yang relatif lebih besar jika dibandingan dengan atlet yang mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang kecil. Dengan simpanan glikogen yang rendah, seorang atlet dalam menjalankan latihan/pertandingannya akan cepat merasa lelah sehingga kemudian mengakibatkan terjadinya penurunan intensitas dan performa olahraga. Hal ini berbeda dengan seorang atlet yang akan memiliki performa dan ketahanan yang lebih baik apabila memiliki simpanan glikogen yang besar.

Perlu juga untuk diketahui bahwa glikogen yang terdapat di dalam otot hanya dapat digunakan untuk keperluan energi di dalam otot tersebut dan tidak dapat dikembalikan ke dalam aliran darah dalam bentuk glukosa apabila terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkannya. Hal ini berbeda dengan glikogen yang tersimpan di dalam hati yang dapat dikonversi menjadi glukosa melalui proses glycogenolysis ketika terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkan. Walaupun jumlah karbohidrat yang dapat tersimpan sebagai glikogen ini memilikiketerbatasan, namun kapasitas penyimpanannya terutama kapasitas penyimpanan glikogen otot dapat ditingkatkan dengan cara mengurangi konsumsi lemak dan memperbesar konsumsi bahan pangan kaya akan karbarbohidrat seperti roti, kentang, jagung,singkong atau juga pasta. Pengisian tubuh dengan karbohidrat pada masa persiapan ini biasanya dikenal dengan istilah carbohydrate loading dan akan memberikan manfaat terutama bagi atlet yang akan berkompetisi dalam cabang olahraga endurance atau atlet yang akan melakukan latihan/ pertandingan dengan durasi lebih dari 90 menit.

C. Kecepatan Produksi Energi Dalam Olahraga

Salah satu faktor  yang menjadi penyebab utama penurunan kapasitas perfoma tubuh saat beraktivitas fisik  seperti berolahraga selain karena  berkurangnya jumlah cairan dari dalam tubuh juga disebabkan oleh berkurangnya jumlah simpanan glukosa (energi) tubuh.

Glukosa merupakan nutrisi karbohidrat terpenting karena  mempunyai fungsi utama  sebagai penyedia energi bagi  berbagai aktivitas fisik tubuh. Berfungsi sebagai ‘bahan bakar’ utama dalam proses metabolisme energi, menjadikan simpanannya  di dalam aliran darah (blood glucose), otot dan hati (glikogen)  menjadi salah satu faktor penting yang menentukan performa tubuh saat melakukan  olahraga intensitas tinggi bertenaga, olahraga ketahanan (endurance) ataupun juga olahraga kombinasi keduanya seperti sepakbola, tenis, bola basket ataupun bulutangkis.

Mengkonsumsi air putih yang telah ditambahkan karbohidrat glukosa terbukti dapat membantu meningkatkan performa olahraga.1,2 Karena merupakan karbohidrat dengan bentuk molekul yang paling sederhana, glukosa mudah diserap  dan dapat cepat menyediakan energi bagi sel-sel  tubuh.

Di dalam tubuh konsumsi  glukosa dapat  menghasilkan laju produksi energi yang besar hingga 1 gram per menit.3  Dan manfaat lebih akan didapatkan apabila glukosa ini dipadukan karbohidrat jenis lain seperti sukrosa atau fruktosa, karena selain akan membantu  mempercepat proses penyerapan cairan ke dalam tubuh  kombinasi antara glukosa-sukrosa atau glukosa-fruktosa ini juga akan menghasilkan laju produksi energi yang lebih besar di dalam tubuh hingga mencapai 1.3 gram per menit.

D. Metabolisme Aerobik Dan Anaerobik

Proses produksi energi di dalam tubuh dapat berjalan melalui dua proses metabolisme yaitu metabolisme aerobik dan metabolisme anaerobik. Metabolisme energi pembakaran  lemak dan karbohidrat dengan  kehadiran oksigen (O2) yang akan diperoleh melalui proses pernafasan disebut dengan metabolisme aerobik.Sedangkan proses metabolisme energi tanpa kehadiran oksigen (O2) disebut dengan metabolisme anaerobik.

Metabolisme energi secara aerobik dapat menyediakan energi bagi tubuh  untuk jangka waktu yang panjang sedangkan metabolisme energi anerobik mampu untuk menyediakan energi secara cepat di dalam tubuh namun hanya untuk waktu yang tebatas yaitu sekitar  5-10 detik.  Pada  olahraga dengan intensitas rendah  tubuh secara dominan akan mengunakan metabolisme aerobic untuk menghasilkan energi. Dan apabila terjadi peningkatan  intensitas olahraga hingga  mencapai titik dimana metabolisme energi aerobik tidak lagi dapat memenuhi  kebutuhan energi sesuai dengan laju yang dibutuhkan, maka energi secara anaerobik akan diperoleh   dari   simpanan creatine phosphate (PCr) dan juga karbohidrat yang tersimpan sebagai glikogen di dalam  otot. Metabolisme energi secara aerobik disebutkan merupakan proses yang ‘bersih’ karena tidak menghasilkan produk samping. Hal ini berbeda dengan sistem anaerobik yang akan menghasilkan produk samping berupa asam laktat yang akumulasinya akan membatasi  efektivitas kontraksi otot yang  juga dapat  menimbulkan rasa nyeri.

Olahraga seperti jalan kaki, jogging, lari jarak menengah-jauh dan  bersepeda merupakan olahraga yang cenderung dilakukan dengan intensitas rendah-sedang pada waktu yang panjang secara dominan akan mengunakan metabolisme aerobic untuk menghasikan energi. Dan olahraga seperti sprint, angkat berat atau jenis olahraga  lain yang membutuhkan energi  besar  secara cepat   merupakan olahraga yang dominan mengunakan metabolisme energi anaerobik. Sedangkan untuk   olahraga beregu  seperti sepakbola, bola basket, hoki yang biasanya merupakan kombinasi antara  komponen intensitas rendah-tinggi yang juga  diselingi dengan  periode istirahat akan mengunakan kombinasi metabolisme aerobik dan anaerobik untuk menghasilkan energi  begitu pula  dengan olahraga individual seperti tenis, bulutangkis atau juga squash.

a. Glikolisis aerob.

Reaksi keseluruhan gliolisis aerob adalah:

Glukosa + 2 NAD+ + 2 Pi + 2 ADP ? 2 piruvat + 2 NADH + 4H+ + 2 ATP + 2 H2O

Bila sel mempunyai kapasitas oksidasi yang tinggi, dalam hal ini tersedia sejumlah mitokondria, enzim-enzim mitokondria dan oksigen. NADH akan ditransfer ke rantai transport electron mitokondria dan piruvat akan dioksidasi lengkap menjadi CO2 via siklus asam trikarboksilat (TCA).
Membran mitokondria impermiabel untuk NADH, karena itu transfer ekivalen tereduksi dari sitosol ke dalam mitokondria memerlukan mekanisme shuttle (ulang-alik), baik proses ulang-alik malat-aspartat maupun ulang-alik gliserol 3-fosfat. (lihat gambar 1.1)
Dalam oksidasi aerobic glukosa menjadi piruvat dan subsekuen oksidasi menjadi CO2, permolekul glukosa menghasilkan fosfat energi tinggi sebesar 38 ATP.

b. Glikolisis Anaerob

Pada kondisi kapasitas oksidatif oleh sel mitokondria terbatas atau karena ketidakadaan oksigen, NADH yang dihasilkan glikolisis direoksidasi melalui perubahan piruvat menjadi laktat oleh laktat dehidrogenase. Perubahan glukosa menjadi laktat tersebut disebut glikolisis anaerob, yang maksudnya proses ini tidak memerlukan molekul oksigen.

Reaksi keseluruhannya:

Glukosa + 2 ADP + 2 Pi ? 2 laktat + 2 ATP + 4 H+ +2 H2O

Energi yang dihasilkan dari glikolisis anaerobic hanya 2 molekul ATP permolekul glukosa, jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kondisi aerobik.

KESIMPULAN

Selama berolahraga, secara ideal  energi harus dapat diperoleh oleh   sel-sel otot dengan laju yang sama dengan kebutuhannya. Proses produksi energi di dalam tubuh dapat berjalan melalui dua proses metabolisme yaitu metabolisme aerobik dan metabolisme anaerobik. Metabolisme energi pembakaran  lemak dan karbohidrat dengan  kehadiran oksigen (O2) yang akan diperoleh melalui proses pernafasan disebut dengan metabolisme aerobik.Sedangkan proses metabolisme energi tanpa kehadiran oksigen (O2) disebut dengan metabolisme anaerobik.

Di dalam tubuh, jaringan otot dan hati merupakan dua kompartemen utama yang digunakan oleh tubuh untuk menyimpan glikogen. Pada jaringan otot,glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 1% dari total massa otot sedangkan di dalam hati glikogen akan memberikan kontribusi sekitar 8-10% dari total massa hati. Walaupun memiliki persentase yang lebih kecil namun secara total jaringan otot memiliki jumlah glikogen 2 kali lebih besar di bandingkan dengan glikogen hati. Sebagai sumber energi simpanan glikogen yang terdapat di dalam tubuh secara langsung akan mempengaruhi kapasitas/ performa seorang atlet saat menjalani program latihan ataupun juga saat pertandingan

DAFTAR PUSTAKA

  • http://www.indoskripsi.com
  • http://poltonsport.com
  • Guyton A.C,”Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit”, ECG, Jakarta, 1987.
  • Schumm D.E,“Intisari Biokimia”, Binarupa Aksara, Jakarta, 1993.
  • Vanders, et al,”Human Physiology”, 6Th Edition, McGraw-Hill, 1994.

pengertian filsafat

FILSAFAT SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN

Filsafat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan karena filsafat merupakan induk dari semua ilmu pengetahuan dan mempunyai peranan yang mendasar dalam sebuah pendidikan. Sehingga keberadaan filsafat yang berasal dari pemikiran seseorang yang dapat mempengaruhi aspek hidup manusia secara tidak perseorangan ini sangat diakui keberadaannya. Karena sifatnya yang sangat rasional dan merupakan buah pemikiran yang berdasarkan empiric yang dilakukan oleh para filosof sehingga menghasilkan suatu kebenaran yang dapat di implementasikan teori mereka masing-masing dalam kehidupan yang nyata.

PENGERTIAN FILSAFAT

Filasafat philoshopia (Yunani) berarti cinta pada ilmu pengetahuan / hikmat . Cinta dalm kebijaksanaan orang yang cinta pada ilmu pengetahuan disebut “philosophos” atau failasuf dalam ucapan bahasa Arabnya.

Prof. Ir. Poedjawijata dalam hal pembatasan nama filsafat itu menyatakan :

“Adapun kata filsafat itu kata Arab yang berhubung rapat dengan kata Yunani bahkan asalnyapun dari bahasa Yunani pula. Dalam bahasa Yunani kata Fhiloshopia itu merupakan kata majemuk yang terdiri dari filo dan sofia. Filo artinya cinta dalm ari yang seluas-luasnya, yaitu ingin dank arena itu lalu berusaha menapai yang di inginkan. Sofia artinya bijaksana atau pandai tahu dengan mendalam. Jadi menurut namanya sajafilsafat boleh ingin tahu dengan mendalam atau cinta kepada kebijaksanaan.

Pengertian filsafat juga berarti ilmu yang memperlajari akan fakta-fakta dari kenyataan yang ada dengan menggunakan logika, etika, estetika dan teori ilu pengetahuan yang bertujuan untuk mencari kebenaran.

Banyak definisi filsafat yang dikemukakan oleh para filosof diantaranya :

1. Plato (427 SM – 348 SM) , filsafat adalah ilu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.

2. Aristoteles (382 SM – 322 SM ) ,filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan etestika.

3. Descartes (2590 – 1650 ),filsafat ialah kumpulan segala ilmu pengetahuan dimana Tuhan, Alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.

4. Immanuel Kant (1724 – 1804 ), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang tercakup di dalamnya metafisika, etika, agama dan anthropologi.

Isi filsafat ditentukan oleh abyek apa yang dipikirkan. Obyek yang dipikirkan oleh filosof ialah segala yang ada dan yang mungkin ada. Obyek yang diselidiki oleh filosof ada obyek material, yaitu segala yang ada tadi tentang obyek material ini banyak yang sama dengan obyek materia sains

Selain obyek materia, yaitu sifat penyelidikan. Obyek forma filsafat adalah peyelidikan yang mendalam. Artinya, ingin tahunya filsafat adalah ingin tahu bagian dalamnya. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang obyek yang tidak empiris.

Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang ada di alam semesta dan merupakan induk dari ilmu pengetahuan. Serta membahas 3 hal penting yaitu:

· Tuhan (Teologi).

· Manusia (Humanologi).

· Alam (Kosmologi).

Ciri ilmu filsafat yang membedakan dengan ilmu lain adalah:

Filsafat membahas ilmu secara sinopsis (menyeluruh).

Filsafat itu mendasar (radikal) atau membahas tuntas dari awal.

Filsafat selalu menanyakan sesuatu dibalik persoalan yang dihadapi dan dipelajari oleh ilmu (spekulatif) tersebut, menetapkan dan mengendalikan pada pikiran rasional dan berusaha mencari kebenaran.

 

Ada beberapa aliran filsafat yang merupakan pemikiran-pemikiran para pilosof dan berkembang dalam masyarakat dan mempraktekkannya, seperti:

· Empirisme yaitu menekankan pada pengalaman dan penghayatannya terhadap duniadan kehidupan.

· Rasionalisme yaitu pemikiran dan pertimbangan terhadap akal sehat.

· Idealisme yaitu pemikiran yang berdasarka ide, materi, dan perkembangan pada pemikiran jiwa dan raga.

MOTIVASI OLAHRAGA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Meningkatnya stres dalam pertandingan dapat menyebabkan atlet bereaksi secara negatif, baik dalam hal fisik maupun psikis, sehingga kemampuan olahraganya menurun. Mereka dapat menjadi tegang, denyut nadi meningkat, berkeringat dingin, cemas akan hasil pertandingannya, dan mereka merasakan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini seringkali menyebabkan para atlet tidak dapat menampilkan permainan terbaiknya. Para pelatih pun menaruh minat terhadap bidang psikologi olahraga, khususnya dalam pengendalian stres.

Apakah Psikologi Olahraga?

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari, namun ada pula yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri.

Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan faktor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya.

Mengapa Psikologi Olahraga Diperlukan dalam Olahraga?

Meningkatnya stres dalam pertandingan dapat menyebabkan atlet bereaksi secara negatif, baik dalam hal fisik maupun psikis, sehingga kemampuan olahraganya menurun. Mereka dapat menjadi tegang, denyut nadi meningkat, berkeringat dingin, cemas akan hasil pertandingannya, dan mereka merasakan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini seringkali menyebabkan para atlet tidak dapat menampilkan permainan terbaiknya. Para pelatih pun menaruh minat terhadap bidang psikologi olahraga, khususnya dalam pengendalian stres.

Psikologi olahraga juga diperlukan agar atlet berpikir mengenai mengapa mereka berolahraga dan apa yang ingin mereka capai? Sekali tujuannya diketahui, latihan-latihan ketrampilan psikologis dapat menolong tercapainya tujuan tersebut.

Mental yang tegar, sama halnya dengan teknik dan fisik, akan didapat melalui latihan yang terencana, teratur, dan sistematis. Dalam membina aspek psikis atau mental atlet, pertama-tama perlu disadari bahwa setiap atlet harus dipandang secara individual, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Untuk membantu mengenal profil setiap atlet, dapat dilakukan pemeriksaan psikologis, yang biasa dikenal dengan “psikotes”, dengan bantuan psikometri.

Profil psikologis atlet biasanya berupa gambaran kepribadian secara umum, potensi intelektual. dan fungsi daya pikirnya yang dihubungkan dengan olahraga. Profil atlet pada umumnya tidak berubah banyak dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, orang sering beranggapan bahwa calon atlet berbakat dapat dilihat semata-mata dari profil psikologisnya. Anggapan semacam ini keliru, karena gambaran psikologis seseorang tidak menjamin keberhasilan atau kegagalannya dalam prestasi olahraga, karena banyak sekali faktor lain yang mempengaruhinya. Beberapa aspek psikologis dapat diperbaiki melalui latihan ketrampilan psikologis yang terencana dan sistematis, yang pelaksanaannya sangat tergantung dari komitmen si atlet terhadap program tersebut

Penampilan seorang atlet tidak bisa dilepaskan dari daya dorong yang dia miliki. Sederhananya, semakin besar daya dorong yang dimiliki, maka penampilan akan semakin optimal, tentu saja jika ditunjang dengan kemampuan teknis dan kemampuan fisik yang memadai. Daya dorong itulah yang biasa disebut dengan motivasi. Menurut Hodgetts dan Richard (2002) motif adalah sesuatu yang berfungsi untuk meningkatkan dan mempertahankan serta menentukan arah dari perilaku seseorang. Sedang motivasi adalah motif yang tampak dalam perilaku. Motiflah yang memberi dorongan seseorang dalam melakukan suatu aktivitas. Hampir semua aktivitas manusia didorong oleh motif-motif tertentu yang bersifat sangat individualis.

B. Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud motivasi?

2.      Apa tujuan dan fungsi motivasi?

3.      Apa saja faktor yang mempengaruhi motivasi?

4.      Apa  aplikasi motivasi terhadap kegiatan olahraga?

C. Tujuan Makalah

Makalah ini bertujuan untuk menginspirasi kita akan pentingnya motivasi dalam kegiatan olahraga. Serta kita dapat mengetahui apa saja faktor dan cara meningkatkan motivasi para pelaku olahraga khususnya bagi para atlet.

 

BAB II

PEMBAHASAN

Manusia adalah makhluk berkembang, makhluk yang aktif. Tindakan atau perbuatan manusia selain ditentukan oleh faktor-faktor yang datang dari luar, juga ditentukan oleh faktor yang datang dari dalam diri sendiri.

Istilah motivasi berasal dari bahasa latin yaitu kata movere yang berarti bergerak. Dalam konteks sekarang, motivasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses psikologi yang menghasilkan suatu intensitas, arah, dan ketekunan individual dalam usaha untuk mencapai satu tujuan.

Dalam pembinaan pendidikan jasmani dan olahraga di Indonesia akhir-akhir ini makin dirasakan tantangan yang berat terutama untuk menampilkan prestasi yang mengungguli atau setidak-tidaknya menyamai prestasi beberapa Negara ASIA yang berciri fisik sama dengan Indonesia. Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar seharusnya mampu mengorbitkan atlet-atlet yang berprestasi.

Dalam bidang pendidikan jasmani dan olahraga, tidak ada atlet yang dapat menang atau menunjukan prestasi yang optimal tanpa motivasi. Meskipun atlet atau tim mempunyai keterampilan yang baik, tetapi tidak ada hasrat untuk bermain baik, biasanya mengalami kekalahan. Demikian pula atlet atau tim yang mempunyai hasrat tinggi tetapi tidak mempunyai keterampilan, maka prestasi tetap buruk. Hasil optimal hanya dapat dicapai kalau motivasi dan keterampilan saling melengkapi. Pernyataan ini, menunjukan bahwa motivasi sebagai aspek dan proses psikologi berhubungan erat dengan keterampilan, perlu ditumbuhkan dan dibina dalam pencapaian prestasi atlet yang optimal.

Sebenarnya secara fisik motivasi itu tidak nampak dan tidak biasa diamati secara langsung, yang biasa diamati hanya gejala-gejalanya saja dalam bentuk tingkah laku manusia yang merupakan akibat atau manifestasi dari tinggi rendahnya ( ada tidaknya ) motivasi dari orang itu.

Kita sering dilingkupi oleh nilai-nilai yang sewaktu-waktu dapat mendorong kita untuk bereaksi ataupun tidak bereaksi. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa sukar sekali orang mengukur motivasi secara umum, apalagi jika pengukuran itu tergantung dari kata hati dan perasaan.

A. Definisi motivasi menurut pendapat para ahli psikologi:

a. David Krech (1962)

Menyatakan bahwa motivasi adalah kesatuan keingian dan tujuan yang menjadi pendorong untuk bertingkah laku dinyatakan bahwa studi tentang motivasi adalah studi yang mempelajari dua pertanyaan yang berbeda atas tingkahlaku individu yakni, mengapa individu memilih tingkahlaku tertentu dan menolak tingkah laku yang lainnya.

b. Barelson dan Steiner dalam O. Koontz (1980)

Motivasi adalah kekuatan dari dalam yang menggerakkan dan mengarahkan atau membawa tinkah laku ke tujuan. Pada hakikatnya, rumusan ini, bila diteliti dengan cermat, merupakan terminologi umum yang mencakup arti daya dorong, keinginan, kebutuhan dan kemauan. Hubungan antara kebutuhan,keinginan dan kepuasan digambarkan sebagai mata rantai yang disebut Need – want – satisfaction chain.

c. E.J Muray (1964 )

Motivasi adalah kecenderungan yang mengarahkan dan memilih tingkah laku yang terkendali sesuai kondisi, dan kecenderungan mempertahankannya sampai tujuan tercapai.

d. Robert.N. Singer (1986)

Motivasi adalah sebagai dorongan untuk mencapai tujuan, dorongan dari dalam terhadap aktifitas yang bertujuan. Menurut singer motivasi itu terbagi antara dua yaitu, dorongan (drive) fisik, dan motif sosial. Dorongan fisik adalah kecenderungan bertingkah laku kearah pemuasan kebutuhan biologis. Motif sosial itu kompleks, muncul dan berkembang dari sumber – sumber sosia, seperti hubungan antar manusia. Dorongan fisik tidak dapat dipelajari, sedangkan motif sosial dapat.

e. W.S. Winkel (1983), Wahjosumidjo (1985), Kamlesh (1983).

Motivasi terbagi atas dua bentuk, yakni motivasi ekstrinsik dan intrinsik. Motivasi ekstrinsik itu bentuk motivasi yang di timbulkan oleh berbagai sumber dari luar seperti pemberian hadiah, penghargaan, sertfikat dan sebagainya. Motivasi intrinsik itu adalah dorongan alamiah yang mendorong seseorang mengerjakan sesuatu dan bukan kerena situasi buatan.

Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa : ”Motivasi Olahraga” adalah keseluruhan daya penggerak (motif – motif) didalam diri individu yang menimbulkan kegiatan berolahraga, menjamin kelangsungan latihan dan memberi arah pada kegiatan latihan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.

Olahraga digemari anak – anak, pemuda dan para orang tua karena memiliki daya tarik untuk mengembangkan berbagain kemampuan, menumbuhkan harapan – harapan, memberikan pengalaman yang membanggakan, meningkatkan kesehatan jasmani, dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan praktis dalam kehidupan sehari – hari dan sebagainya.

Melalui olahraga para pemuda mendaptakan kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuan, mendapatkan pengakuan dan popularitas, menemukan teman – teman baru serta pengalaman bepergian dan bertanding yang mendatangkan kegembiraan dan kepuasan. Olahraga merupakan aktivitas yang unik, dimana sermua memerlukan hubungan yang harmonis dan ideal antara proses berfikir, emosi dan gerakan.

Kompetisi menimbulkan keadaan penuh stres dan dapat menimbulkan kecemasan atau anxiety, serta tantangan untuk mengatasi berbagai perasaan, dengan berolahraga timbul bermacam – macam dorongan untuk bertindak sebaik – baiknya yang merupakan sebagian dorongan untuk mengembangkan diri sendiri atau ”self – improvement”.

B. Fungsi Motivasi

Pengalaman nyata di negara-negara berkembang pada umumnya, seperti juga di Indonesia, adalah bila atletnya mengalami kegagalan pada suatu turnamen, maka kelemahan teknik dan taktik dituding sebagai sebab utama. Di negara-negara yang sudah maju prestasi olahraganya, kurangnya motivasi dituding sebagai penyebab utama. Anggapan yang berbeda ini sebenarnya disebabkan kelemahan teknik masih menonjol di negara-negara berkembang, sedangkan kempuan teknik dan fisik bukan masalah di negara-negara maju, sehingga motivasi merupakan kunci yang mentukan keberhasilan penampilannya yang prima.

Peranan motivasi terhadap prestasi olahraga banyak dibicarakan dan diperhatikan oleh ahli-ahli psikologi olahraga. Menurut Singgih Gunarsa, prestasi seseorang dihasilkan dari motivasi ditambah latihan. Straub menyatakan bahwa prestasi seseorang adalah motivasi ditambah ketrampilan. Sedangkan menurut R.N Singer, prestasi dalam olahraga itu sama dengan keterampilan yang diperoleh melalui motivasi yang menyebabkan atlet bertahan dalam latihan, ditambah dengan motivasi yang menyebabkan atlet bergairah berlatih keras. Memang tidak dapat disangkal bahwa motivasi tidak dapat dipisahkan dengan keberhasilan atlet dalam aktifitas olahraga.

Sama halnya pada proses pembelajaran. Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi / memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk pelajaran.

Peran motivasi dalam proses pembelajaran, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap kefektifan usaha belajar siswa.

Fungsi motivasi dalam pembelajaran diantaranya :

  1. Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar.
  2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
  3. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

Pada garis besarnya motivasi mengandung nilai-nilai dalam pembelajaran sebagai berikut :

  1. Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar siswa.
  2. Pembelajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada diri siswa.
  3. Pembelajaran yang bermotivasi menuntut kreatifitas dan imajinitas guru untuk berupaya secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memeliharan motivasi belajar siswa.
  4. Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan mendayagunakn motivasi dalam proses pembelajaran berkaitan dengan upaya pembinaan disiplin kelas.
  5. Penggunaan asas motivasi merupakan sesuatu yang esensial dalam proses belajar dan pembelajaran.

C. Sumber Motivasi

Motivasi olahraga dapat dibagi atas motivasi primer dan sekunder, dapat pula atas motivasi biologis dan sosial. Namun banyak ahli membagikannya atas dua jenis, intrinsik dan ekstrinsik.

a) Motivasi Intrinsik

Motivasi intrinsik adalah dorongan dari dalam yang menyebabkan individu berpartisipasi. Dorongan ini sering dikatakan dibawa sejak lahir, sehingga tidak dapat dipelajari. Atlet yang punya motivasi intrinsik akan mengikuti latihan peningkatan kemampuan atau ketrampilan, atau mengikuti pertandingan, bukan karena situasi buatan (dorongan dari luar), melainkan karena kepuasan dalam dirinya. Bagi atlit tersebut, kepuasan diri diperoleh lewat prestasi yang tinggi bukan lewat pemberian hadiah, pujian atau penghargaan lainnya. Atlit ini biasanya tekun, bekerja keras, teratur dan disiplin dalam menjalani latihan serta tidak menggantungkan dirinya pada orang lain.

Pada umumnya kemenangan yang diperoleh dalam kompetisi merupakan kepuasan dan selalu dievaluasi guna lebih ditingkatkan, dan kekalahan akan diterima tanpa kekecewaan melainkan akan menjadi sumber analisa terhadap kekuatan lawan dan kelemahan diri sendiri guna diperbaiki melalui latihan-latihan yang keras. Biasanya atlit ini mempunyai kepribadian yang matang, sportif, tekun, percaya diri, disiplin dan kreatif.

Motivasi intrinsik memiliki faktor-faktor dari dalam doro manusia itu sendiri. Seperti yang di ungkapkan oleh Abraham H. Maslow pada teori kebutuhan. Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :

1.      Kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex;

2.      Kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual;

3.      Kebutuhan akan kasih sayang (love needs);

4.      Kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan

5.      Aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Kebutuhan-kebutuhan yang disebut pertama (fisiologis) dan kedua (keamanan) kadang-kadang diklasifikasikan dengan cara lain, misalnya dengan menggolongkannya sebagai kebutuhan primer, sedangkan yang lainnya dikenal pula dengan klasifikasi kebutuhan sekunder. Terlepas dari cara membuat klasifikasi kebutuhan manusia itu, yang jelas adalah bahwa sifat, jenis dan intensitas kebutuhan manusia berbeda satu orang dengan yang lainnya karena manusia merupakan individu yang unik. Juga jelas bahwa kebutuhan manusia itu tidak hanya bersifat materi, akan tetapi bersifat pskologikal, mental, intelektual dan bahkan juga spiritual.

Menarik pula untuk dicatat bahwa dengan makin banyaknya organisasi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dan makin mendalamnya pemahaman tentang unsur manusia dalam kehidupan organisasional, teori “klasik” Maslow semakin dipergunakan, bahkan dikatakan mengalami “koreksi”. Penyempurnaan atau “koreksi” tersebut terutama diarahkan pada konsep “hierarki kebutuhan “ yang dikemukakan oleh Maslow. Istilah “hierarki” dapat diartikan sebagai tingkatan. Atau secara analogi berarti anak tangga. Logikanya ialah bahwa menaiki suatu tangga berarti dimulai dengan anak tangga yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Jika konsep tersebut diaplikasikan pada pemuasan kebutuhan manusia, berarti seseorang tidak akan berusaha memuaskan kebutuhan tingkat kedua,- dalam hal ini keamanan- sebelum kebutuhan tingkat pertama yaitu sandang, pangan, dan papan terpenuhi; yang ketiga tidak akan diusahakan pemuasan sebelum seseorang merasa aman, demikian pula seterusnya.

Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :

  • Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;
  • Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
  • Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.

Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.

b) Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang berasal dari luar diri individu yang menyebabkan individu beradaptasi dalam olahraga. Dorongan ini barasal dari pelatih, guru, orngtua, bangsa atau berupa hadiah, sertifikat, penghargaan atau uang. Motivasi ekstrinsik itu dapat dipelajari dan tergantung pada besarnya nilai penguat itu dari waktu ke waktu. Ini dapat karena mempertaruhkan nama bangsa dan negara, karena hadiah besar, karena publikasi lewat media massa. Dorongan yang demikian ini biasanya tidak bertahan lama. Perubahan nilai hadiah, tiadanya hadiah akan menurunkan semangat dan gairah berlatih. Kurangnya kompetisi menyebabkan latihan kurang tekun, sehingga prestasinya merosot.

Motivasi ekstrinsik dalam olahraga meliputi juga motivasi kompetitif, karena motif untuk bersaing memegang peranan yang lebih besar daripada kepuasan karena telah berprestasi baik. Kemenangan merupakan satu-satunya tujuan, sehingga dapat timbul kecenderungan untuk berbuat kurang sportif atau kurang jujur seperti licik dan curang. Atlet-atlet yang bermotifasi ektrinsik, sering tidak menghargai orang lain, lawannya, atau peraturan pertandingan. Agar dapat menang, maka ia cenderung berbuat hal-hal yang merugikan, seperti memakai obat perangsang, mudah dibeli atau disuap.

Beberapa ahli mengemukakan bahwa dalam aktifitas olahraga, motivasi intrinsik maupun ekstrisik tidak akan berdiri sendiri, melainkan bersama-sama menuntun tingkah laku individu. Mereka berdasarkan pandangannya bahwa tingkahlaku motivasi intrinsik itu didrong oleh kebutuhan kompetisi dan keputusan sendiri dalam kaitannya dengan lingkungan.

Manusia hidup dengan lingkungannya dan bertingkah laku dengan lingkunganya. Itulah sebabnya pengaruh lingkungan tidak akan terlepas dari kehidupan manusia. Motivasi ekstrisik (pengaruh lingkungan) selalu menuntun tingkah laku manusia. Dengan demikian tingkah laku individu dalam olahraga dipengaruhi oleh motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik.

Peran motivasi intrinsik dan ekstrinsik dapat kita lihat dalam pertandingan. Dalam pertandingan atlet atau tim akan bermain dilapangan yang baru, menghadapi penonton yang banyak. Sebelum dan selama pertandingan mereka selalu mendapat petunjuk-petunjuk dari pelatih baik teknik, strategi maupun dorongan semangat, agar mereka dapat bermain sebaik mungkin dan memenangkan pertandingan. Situasi penonton, lapangan yang baru, petunjuk pelatih, menyebabkan tingkah laku mereka dalam kendali lingkungan. Artinya, motivasi ekstrinsik berfungsi. Dengan demikin dalam diri atlet atau tim berfungsi motivasi intrisik karena adanya kebutuhan-kebutuhannya sendiri, dan motivasi ekstrisik karena dipengaruhi keadaan dari luar.

Weine Halliwell (1978) menyatakan bahwa sebenarnya motivasi dasar tingkahlaku individu dalam olahraga adalah motivasi intrinsik, namun selalu ditambah dengan motivasi ekstrinsik. Dorongan ekstrinsik dapat meningkatkan motivasi intrinsik, kalau dorongan itu menambah kompetisi dan keputusan individu, dan dapat menurunkan motivasi intrinsik, kalau dorongan itu mengurangi kompetisi dan keputusan diri individu. Dengan kata lain, kalau kontrol (aspek lingkungan) lebih menonjol, maka penguatan yang diberikan akan menurunkan motivasi intrinsik. Tetapi jika informasi lebih menonjol dan positif terhadap kompotensi dan keputusan sendiri individu, maka motivasi intrinsik akan meningkat.

D. Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi

Ada banyak sekali faktor yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya motivasi. Gunarsa (2004) menjelaskan bahwa ada 4 dimensi dari motivasi. Dimensi-dimensi tersebut adalah:

1. Atlet Sendiri

Atlet memegang peranan sentral dari munculnya motivasi. Atlet sendiri yang mengatur dirinya untuk mencapai atau mendapatkan sesuatu. Jika atlet sudah merasa puas dengan pencapaian yang ada, maka tidak ada lagi usaha keras untuk mendapatkan sesuatu yang baru.

2. Hasil Penampilan

Hasil penampilan sangat menentukan motivasi seorang atlet selanjutnya. Kekalahan dalam pertandingan sebelumnya akan berdampak negatif terhadap motivasi atlet berikutnya. Atlet akan diliputi perasaan tidak berdaya dan seolah-olah tidak mampu lagi untuk bangkit. Terlebih lagi jika mengalami kekalahan dari pemain yang dianggap lebih lemah dari dirinya. Sebaliknya, jika mendapatkan kemenangan, maka hal itu akan menumbuhkan sikap positif untuk mengulang keberhasilan yang berhasil dia raih. Sebagai contoh, permainan tim nasional sepakbola Indonesia dalam Piala Asia tahun 2007 yang lalu. Kemenangan pertandingan pertama melawan Bahrain membuat para pemain tim nasional begitu bersemangat untuk mendapatkan hasil serupa ketika bertanding melawan Arab Saudi pada pertandingan setelahnya.

3. Suasana Pertandingan

Suasana pertandingan sangat menentukan emosi seorang atlet. Sebagai contoh, Taufik Hidayat kerap mundur dari pertandingan gara-gara merasa dicurangi oleh wasit. Kondisi tersebut tentu saja tidak menyenangkan. Emosi yang sudah terganggu oleh kondisi pertandingan yang tidak menyenangkan akan berdampak pada motivasi atlet dalam menyelesaikan atau memenangkan sebuah pertandingan.

4. Tugas atau Penampilan

Motivasi juga ditentukan oleh tugas atau penampilan yang dilakukan. Jika tugas berhasil dengan baik diselesaikan, keyakinan diri atlet akan meningkat. Dengan keyakinan diri yang tinggi, motivasi juga akan mengalami kenaikan. Tugas yang berhasil dilaksanakan akan memberi tambahan energi dan motif untuk bekerja lebih giat.

F. Cara Meningkatkan Motivasi

Motivasi memegang peranan yang penting dalam olahraga prestasi. Seorang atlet harus mampu menjaga motivasinya agar tetap dalam level yang tinggi baik dalam proses latihan maupun pada saat menjalani pertandingan. Motivasi memang bukanlah kondisi yang tidak bisa berubah. Setiap saat motivasi atlet bisa mengalami perubahan, sehingga diperlukan sebuah upaya agar motivasi tetap terjaga pada level yang optimal. Ada beberapa cara untuk meningkatkan motivasi atlet, diantara adalah:

1. Menetapkan Sasaran (Goal Setting)

Konsep dasar dari goal setting adalah menciptakan tantangan bagi atlet untuk dilewati. Secara sederhana, goal setting merangsang atlet untuk mencapai sesuatu baik dalam proses latihan maupun dalam sebuah kompetisi. Ada beberapa batasan tentang metode goal setting ini agar berjalan secara efektif.

Yang perlu diperhatikan pertama adalah sasaran harus spesifik agar atlet mempunyai ukuran atas pencapaiannya. Batasan yang kedua adalah tingkat kesulitan sasaran. Tingkat kesulitan ini akan mempengaruhi persepsi atlet tentang kemampuannya. Sasaran yang terlalu sulit akan membuat atlet ragu untuk bisa mencapainya. Seandainya gagal, hal itu justru akan melemahkan keyakinan diri atlet. Sebaliknya, sasaran juga tidak bisa dibuat terlalu mudah karena tidak akan memberi rangsangan untuk berbuat lebih. Semakin menantang sasaran yang harus dicapai, upaya dari seorang atlet untuk meraihnya juga akan semakin besar (Wann, 1997).

Sasaran juga harus dibuat bertingkat dengan membedakan sasaran jangka pendek dan jangka panjang. Sasaran jangka pendek digunakan sebagai batu loncatan untuk meraih sasaran yang lebih tinggi. Misalnya, Olimpiade sebagai sasaran jangka panjangnya. Untuk mencapai hal tersebut, maka seorang atlet harus menjuarai level Sea Games atau Asian Games terlebih dahulu.

Mengikuti kompetisi yang rutin dan berjenjang adalah salah satu bentuk menentukan sasaran yang efektif. Dengan banyak mengikuti kompetisi, seorang pelatih akan lebih mudah menentukan prioritas dari kompetisi tersebut. Ada kalanya kompetisi dijadikan sebagai ajang pemanasan untuk mematangkan kondisi fisik, sehingga targetnya tidak perlu terlalu tinggi.

Berikutnya, atlet harus selalu diberi feedback atas setiap pencapaian yang dia selesaikan. Dengan feedback yang spesifik ini, atlet akan mengetahui kekurangan dan kekuatan dirinya, sehingga atlet akan mempunyai informasi untuk meningkatkan dirinya. Dengan menetapkan sasaran yang tepat, maka motivasi atlet akan selalu terpacu untuk tampil dan menyelesaikan setiap tantangan yang dihadapi.

2. Persuasi Verbal

Persuasi Verbal adalah metode yang paling mudah untuk dilakukan. Pelatih, ofisial, atau keluarga adalah orang-orang yang sering memberikan persuasi secara verbal ini. Persuasi verbal adalah membakar semangat atlet dengan ucapan-ucapan yang memotivasi.

Selain itu, Persuasi verbal bisa juga dilakukan oleh atlet sendiri atau sering disebut dengan istilah Self talk. Self talk adalah metode persuasi verbal untuk atlet sendiri. Prinsip dasar dari self talk ini sebenarnya adalah membantu atlet untuk mendapatkan gambaran yang positif baik tentang kemampuannya atau mengenai suasana pertandingan. Self talk ini diyakini mampu menumbuhkan keyakinan diri atlet baik sebelum bertanding atau pada saat menjalani pertandingan. Dengan mengucapkan kalimat-kalimat yang membakar semangat maka gambaran pesimisme atlet akan hilang dari persepsinya.

3. Imagery Training

Metode berikutnya yang cukup membantu memacu motivasi para atlet adalah dengan melakukan imagery training atau latihan pembayangan. Dalam latihan pembayangan ini atlet diajak untuk memvisualisasikan situasi pertandingan yang akan dijalani. Secara detil, atlet harus menggambarkan keseluruhan pertandingan, mulai dari situasi lapangan, penontong, lawan dan segala macam yang terlibat dalam pertandingan itu. Setelah mendapat gambaran yang riil, maka atlet diajak untuk mencari solusi atas persoalan yang mungkin muncul dalam pertandingan.

Sebagian pemain mengembangkan persepsi bahwa di lapangan akan menghadapi lawan yang berat, tangguh dan sulit dikalahkan. Persepsi semacam ini terkadang muncul akibat ketegangan sebelum pertandingan. Atlet tidak secara objektif menilai kemampuan diri sendiri. Konsentrasi atlet terfokus pada kekuatan lawan dan situasi pertandingan yang berat. Situasi inilah yang melemahkan motivasi atlet sebelum bertanding. Metode Imagery training mengajak para pemain untuk mencari atas kemungkinan persoalan yang muncul di lapangan. Membayangkan kekuatan diri, pukulan andalan atau kelemahan musuh, menciptakan kondisi objektif pada persepsi seorang atlet.

4. Motivasi Supertisi ( Takhayul )

Adalah suatu bentuk kepercanyaan kepada susuatu yang menrupakan suatu simbul dan yang di anggap mempunyai daya kekuatan atu daya dorongan mental, motivasi ini dapat mengubah tngkah laku menjadi lebih semangat, ambisius, dan lebih besar kemauanya untk sukses.

5. Motivasi Dengan Gambar

Terutama gambar atau poster yang ada berhubungnya dengan cabang olahraga yang di geluti misalnya, gambar Ben Johnson yang sedang lari,gambar adegan yang menarik dalam pertandingan sepak bola, ganbar Mike Tyson dan alin-lain.

6. Meningkatkan Kemampuan Atlet

Kemampuan atlet meliputi skill teknis dan fisik. Skill dan fisik yang bagus, akan mempengaruhi keinginan untuk mencapai prestasi yang maksimal. Skill yang prima dapat dilihat dan dievaluasi melalui pertandingan yang diikuti oleh atlet. Untuk itu diperlukan metode kepelatihan yang modern dan efektif untuk meningkatkan keterampilan seorang atlet. Pelatih juga harus paham dengan pencapaian teknik dan fisik yang dimiliki oleh pemainnya.

7. Motivasi insentif (Reward)

Reward ini adalah metode yang paling banyak digunakan untuk memacu motivasi atlet. Bonus, hadiah atau jabatan tertentu digunakan untuk memotivasi atlet. Reward ini ditujukan untuk menggugah motivasi ekstrinsik dari atlet. Dengan iming-iming bonus yang besar, diharapkan atlet akan terpacu tampil terbaik dan mengalahkan lawannya.

Salah satu kelemahan dari metode ini adalah kemungkinan menciptakan ketergantungan dari para atlet. Banyak atlet hanya termotivasi hanya untuk mendapatkan bonus tersebut daripada alasan lain, Sehingga tidak jarang atlet melakukan upaya-upaya kotor untuk menjadi pemenang. Penggunaan doping adalah salah satu cara yang paling sering ditempuh oleh seorang atlet demi tampil maksimal dan mendapatkan hadiah atas kemenangannya. Untuk itulah, reward ini harus diberikan sebagai pelengkap dari metode lain dan harus diberikan secara bijaksana.

8. Motivasi Karena Takut

Ketakutan atau takut terhadap sesuatu dapat merupakan motivasi yang kuat bagi seseorang.:

  • Perasaan yang takut atau malu jika atlit tidak tau peraturan pertandingan tersebut (sportif).
  • Kekuatan atlit dalam porsi latihan yang diberikan.
  • Perasaan takut atau malu ketika tidak ikut serta dalam team (diskors).
  • Perasaan takut atau malu jika tidak bias mamanuhi harapan-harapan atau sasaran yang di tetapkan oleh pelatih. Sehingga atlit akan beruasaha sekuat tenaga dalam batas sportitifitas.

G. Hal-Hal Yang Mendorong Atlet Berprestasi

a. Mencari dan mengatasi stress

Agaknya berjuang untuk mengatasi rintangan-rintangan menciptakan stress pada diri sendiri, dan berusaha untuk sukses melalui stress merupakan salah satu utama atlet untuk berprestasi. Sebagai contoh para pendaki gunung, dan pada dunia olahraga banyak sekali hal-hal yang serupa ( mencari stress dan mengatasinya ) yang mana Craty 1973 mengatakan hal tersebut dengan “ stress seeking animals”. Banyak atlet memperoleh kepuasan jika mereka mampu melewati atau mengalahkan lawan-lawannya atau dapat mengatasi rintangan yang menghalanginya.

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan uraian pembahasan diatas, maka penulis dapat menarik kesimpulan yaitu :

  • ”Motivasi Olahraga” adalah keseluruhan daya penggerak (motif – motif) didalam diri individu yang menimbulkan kegiatan berolahraga, menjamin kelangsungan latihan dan memberi arah pada kegiatan latihan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki. Melalui olahraga para pemuda mendaptakan kesempatan yang luas untuk mengembangkan kemampuan, mendapatkan pengakuan dan popularitas, menemukan teman – teman baru serta pengalaman bepergian dan bertanding yang mendatangkan kegembiraan dan kepuasan. Olahraga merupakan aktivitas yang unik, dimana sermua memerlukan hubungan yang harmonis dan ideal antara proses berfikir, emosi dan gerakan.
  • Peran motivasi intrinsik dan ekstrinsik dapat kita lihat dalam pertandingan. Dalam pertandingan atlet atau tim akan bermain dilapangan yang baru, menghadapi penonton yang banyak. Sebelum dan selama pertandingan mereka selalu mendapat petunjuk-petunjuk dari pelatih baik teknik, strategi maupun dorongan semangat, agar mereka dapat bermain sebaik mungkin dan memenangkan pertandingan. Situasi penonton, lapangan yang baru, petunjuk pelatih, menyebabkan tingkah laku mereka dalam kendali lingkungan. Artinya, motivasi ekstrinsik berfungsi. Dengan demikin dalam diri atlet atau tim berfungsi motivasi intrisik karena adanya kebutuhan-kebutuhannya sendiri, dan motivasi ekstrisik karena dipengaruhi keadaan dari luar.

Saran

Dari uraian kesimpulan diatas, maka kami memberikan saran semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi setiap pembaca dalam proses pembelajaran ataupun penambahan wawasan dalam ilmu pengetahuan. Umumnya dibidang psikologi olahraga dan khususnya dalam materi motivasi dalam olahraga.

DAFTAR PUSTAKA

  • Singgih D. GUnarsa (2004), Psikologi Olahraga Prestasi, Jakarta; BPK Gunung Mulia
  • Monly P. Satiadarma (2000), Dasar-dasar Psikologi Olahraga, Jakarta; Pustaka Sinar Harapan
  • Yunus Mahmud dan Uray Johannes (1991/1992), Psikologi Olahraga, malang; Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Malang
  • http://www.indoskripsi.com

Pizarro Cedera, Ranieri Makin Pusing

Foto: David Pizarro/Getty Images
ROMA – Claudio Ranieri dituntut mengepak poin sempurna melawan Lecce, akhir pekan ini. Sayang, di tengah desakan itu Ranieri justru harus kehilangan pilarnya lagi.

Gelandang David Pizarro terpaksa menyudahi latihan lebih cepat, kemarin waktu setempat, setelah mendapat cedera paha. Situasi ini membuat Ranieri makin cemas.

Maklum, AS Roma tengah mempersiapkan diri jelang laga kontra Lecce. Poin sempurna wajib masuk kantong jika kursi Ranieri tak mau terus digoyong.

Sialnya, Giallorossi sudah lebih dulu kehilangan Rodrigo Raddei, Jeremy Menez dan Daniele De Rossi yang masuk daftar pesakitan. Cederanya Pizarro hanya akan membuat posisi Ranieri kian sulit, demikian disitat Football Italia, Kamis (28/10/2010).

Ranieri tak mau ambil risiko dengan memaksa Pizarro tampil. Pasalnya, pertandingan Liga Champions kontra Basel serta derbi ibukota melawan Lazio pekan depan dianggap lebih penting.

Kamis, 28 Oktober 2010 – 21:07 wib

Previous Older Entries Next Newer Entries