PSK Dolly Jadi Sapi Perah Oknum Pemerintah

Surabaya

Tampaknya mulai terungkap mengapa banyak oknum pejabat pemeritnah di Surabaya ngotot tak mau menutup tempat pelacuran Dolly dan Jarak. Ternyata para PSK di Dolly dan Jarak selama ini telah menjadi sapi perah para oknum pejabat di kota Surabaya.

Tadi malam detiksurabaya.com melaporkan bahwa jumlah iuran masuk ke dalam kantong beberapa oknum pemerintahan sangat besar. Hampir tiap hari ada tarikan sebesar Rp 5.000 per PSK yang diserahkan ke oknum pemerintah. Juga uang keamanan yang harus disetorkan sebesar Rp 10.000 per tamu per PSK.
“Iuran 5 ribu itu diserahkan ke orang kecamatan dan yang 10 ribu katanya diserahkan
untuk RW setempat,” kata sumber detiksurabaya.com di kawasan Dolly, Selasa (26/10/2010).

Kini PSK di lokalisasi Dolly dan Jarak jumlahnya 1.145 orang. Jadi jika jumlah tamu PSK itu dikalikan Rp 5 ribu berarti tiap malam, oknum pejabat dari kecamatan mendapatkan uang setoran lebih dari Rp 5 juta atau Rp 150 juta per bulan.

Sedangkan jumlah uang keamanan sebesar Rp 10 ribu yang harus disetor tiap malam ini lebih mencengangkan. Perhitungannya, apabila tiap PSK mendapatkan 2 orang tamu berarti per PSK harus membayar Rp 20 ribu.

Asumsi ini bila dikalikan dengan jumlah PSK maka pendapatan perhari mencapai Rp 23 juta atau Rp 690 juta perbulan. Iuran gelap ini masih hitungan yang terlihat, belum
iuran-iuran yang harus dibayarkan oleh mucikari. Jadi praktis PSK jadi sapi perah para oknum pemerintah. “Belum termasuk parkir, retribusi lainnya yang ditanggung pemilik wisma dan mucikari. Jumlahnya cukup tinggi dalam sebulan,” ungkapnya.

– Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membantah adanya pungutan liar dari lokalisasi Dolly yang diserahkan ke aparat pemerintahan. Pemerintah kota mengaku banyak berperan dengan memberikan pelatihan untuk mengentas PSK dari pelacuran.

Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya, Deddy Sosialisto, menyatakan bahwa pihaknya tidak tahu menahu mengenai setoran yang diberikan oleh PSK atau pun mucikari tiap harinya. Karena, pihaknya berperan di Dolly sebagai pembina dan pemberi pelatihan.

“Kami tidak tahu dan tidak tahu menahu mengenai ada pungutan tersebut. Kami hanya melatih dan memberikan penyuluhan,” katanya saat dihubungi detiksurabaya.com, Selasa (26/10/2010).

Ketika ditanya mengenai siapakah yang mempunyai kewenangan menarik iuran-iuran gelap itu, Deddy tidak bisa memberikan keterangan. Bahkan, Deddy langsung menutup hubungan teleponnya dengan alasan sedang berada di luar kantor.

Ditulis oleh Harian Bangsa
Rabu, 27 Oktober 2010 16:06

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: