DOPING TERHADAP OLAHRAGA DI INDONESIA

PENDAHULUAN

Prestasi olahraga yang tinggi perlu terus-menerus dipertahankan dan ditingkatkan  lagi. Salah satu faktor yang penting untuk mewujudkan adalah melalui gizi seimbang yaitu energi yang dikeluarkan untuk olahraga harus seimbang atau sama dengan energi yang masuk dari makanan. Makanan untuk seorang atlet, harus mengandung zat gizi sesuai dengan yang dibutuhkan untuk aktifitas sehari-hari dan olahraga. Makanan harus mengandung zat gizi penghasil energi yang jumlahnya tertentu. Selain itu makanan juga harus mampu mengganti zat gizi dalam tubuh yang berkurang akibat digunakan untuk aktifitas olahraga.

Pengaturan makanan terhadap seorang atlet harus individual. Pemberian makanan harus memperhatikan jenis kelamin atlet, umur, berat badan, serta jenis olahraga. Selain iyu, pemberian makanan juga harus memperhatikan periodisasi latihan, masa kompetisi, dan masa pemulihan. Gerak yang terjadi pada olahraga karena adanya kontraksi otot. Otot dapat berkontraksi karena adanya pembebasan energi berupa ATP yang tersrdia di dalam sel otot. ATP dalam sel otot jumlahnya terbatas dan dapat dipakai sebagai sumber energi hanya dalam waktu 1 sampai 2 detik. Kontraksi otot dapat berlangsung apabila ATP yang telah berkurang di bentuk kembali ATP dapat berasal dari kreatin fosfat, glukoda,glikogen dan asam lemak.penambahan energi ini bisa dengan menggunakan obat. Dalam kedokteran hal ini biasa disebut dengan Doping.

Dalam sejarah manusia, doping sudah dipakai sejak zaman dahulu. Pada waktu itu, orang Amerika dan Afrika mamakan berbagai tumbuhan liar dan madu untuk kekuatan sebelum perang, berburu, dan melakukan perjalanan jauh. Pada perang dunia II, banyak ditemukan pil-pil amphetanine untuk mengatasi rasa letih dan ngantuk.

Istilah dope pertama kali timbul pada tahun 1889 pada suatu perlombaan balap kuda di Inggris sedangkan kata dope itu sendiri berasal dari salah satu suku bangsa di Afrika Tengah. Sejarah doping dalam olahraga dimulai kurang lebih pada abad 19 pada olahraga renang, tetapi yang paling sering dijumpai pemakaian doping ini adalah pada olahraga balap sepeda. Pada waktu itu zat-zat yang populer dipakai adalah caffeine, gula dilarutkan dalam ether, minuman-minuman yang mengandung alkohol, nitroglycerine, heroin dan cocain.

Akhirnya, peneliti menyimpulkan ada 4 golongan obat yang termasuk kedalam golongan doping, yaitu psychomotor stimulants, symphatomimetic amines, centralnervous system stimulants, dan narcotic analgesics.

 

RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimana pengertian dopping ?

2.      Bagaimana upaya pemberantasan dopping di Indonesia ?

3.      Bagaimana bahaya dopping bagi atlet olahraga ?

 

TUJUAN

1.      Untuk mengetahui pengertian dopping.

2.      Untuk mengetahui pemberantasan dopping di Indonesia

3.      Untuk mengetahui bahaya dopping bagi atlet olahraga

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN DOPING

 

Definisi-definisi untuk doping ini berubah-ubah terus sesuai dengan perkembangan zaman. Defmisi yang pertama digariskan adalah pada tahun 1963 dan berbunyi sebagai berikut : doping adalah pemakaian zat-zat dalam bentuk apapun yang asing bagi tubuh, atau zat yang fisiologis dalam jumlah yang tak wajar dengan jalan tak wajar pula oleh seseorang yang sehat dengan tujuan untuk mendapatkan suatu peningkatan kemampuan yang buatan secara tidak jujur. Juga bermacam-macam usaha psikologis untuk mening- katkan kemampuan dalam olahraga harus dianggap sebagai suatu doping.Lalu karena dirasakan sukar untuk membedakan antara suatu pemakaian doping dengan suatu pengobatan memakai obat- obat stimulantia maka ditambah pula hal-hal baru dalamdefinisi tersebut : Bila karena suatu pengobatan terjadi kenaikan suatu kemampuan fisik karena khasiat obat atau karena dosis yang berlebih maka pengobatan tersebut dianggap sebagai suatu doping.

Pada kongres ilmiah Olahraga Internasional di Tokyo ada perubahan dengan definisi doping menjadi: Doping adalah pemberian kepada, atau pemakian oleh, seorang atlet yang bertanding, suatu zat asing melalui cara apapun, atau sutau zat fiiologis dalam jumlah yang tak wajar atau diberikan melalui cara tak wajar dengan maksud atau tujuan khusus untuk meningkatkan secara buatan yang tidak jujur kemampuan atlit dalam pertandingan.

Dalam olahraga, doping merujuk pada penggunaan obat peningkat performa oleh para atlet agar dapat meningkatkan performa atlet tersebut. Akibatnya, doping dilarang oleh banyak organisasi olahraga. Menurut IOC (International Olympic Committee) pada tahun 1990, doping adalah upaya meningkatkan prestasi dengan menggunakan zat atau metode yang dilarang dalam olahraga dan tidak terkait dengan indikasi medis. Alasannya terutama mengacu pada ancaman kesehatan atas obat peningkat performa, kesamaan kesempatan bagi semua atlet dan efek olahraga “bersih” (bebas doping) yang patut dicontoh dalam kehidupan umum. Selain obat, bentuk lain dari doping ialah doping darah, baik melalui transfusi darah maupun penggunaan hormon eritropoietin atau steroid anabolik tetrahidrogestrinon. Sudah banyak atlet yang terkenal sebagai pengguna doping seperti, pemain sepak bola Diego Amargo Maradona.

Meski sudah resmi dilarang , banyak atlet yang masih menggunakan doping sebagai shortcurt untuk memenangkan pertandingan selaib itu, doping juga berbahaya bagi kesehatan pemakainya sebab dapat menyebabkan timbulnya penyakit, cacat bahkan kematian. Jadi, keuntungan yang didapat tidaklah seimbang dengan kerugian yang akan diderita bertahun-tahun kemudian. Belum lagi kalau ketahuan, si atlet dan pembinanya harus menanggung rasa malu. Jenis obat yang masuk doping adalah gol;ongan stimulan (perangsang), golongan narkotik analgesic, golongan anabolik steroid, golongan detablocker, golongan deuretika, serta golongan peptide hormons dan analognya. Selain itu, ada cara tertentu termasuk doping yaitu darah. Doping yaitu doping darah, manipulasi secara fisik, dan farmakologi, adapun, bahan obat yang dibatasi adalah alkohol, mariyuana, anestesi lokal, dan kortikosteroid, salah satu jenis doping yang sering digunakan para atlet adalah obat-obatan anabolik, termasuk hormon andraginiksteroid. Jenis hormon ini mempunyai efek berbahaya, baik bagi atlet pria maupun perempuan karena mengganggu keseimbangan hrmon tubuh serta meningkatkan resiko terkena penyakit hati dan jantung. Bagi atlet remaja, itu akan menyebabkan timbulnya jerawat yang terpenting, dapat menyebabkan pertumbuhanya berhenti.

Zat doping lain yang digunakan biasanya oleh pemanah dan penembak dengan tujuan meningkatkan ketenangan, menurangi tangan gemetar, menurunkan denyut jantung agar lebih mudah berkonsentrasi adalah obat yang tergolong obat betablocker. Obat ini digunakan dokter untuk mengobati penyakit jantung yaityu mengurangi oaloitation (jantung berdebar) dan menurunkan tekanan dara akibat tekanan darah tinggi. Hal yang sering terjadi pada atlet perempuan adalah pemakaian obat analgesic. Tujuanya jelas sebagai penghilang rasa sakit ketika haid menjelang. Tetapi, dampaknya jika salah memilih obat bisa mengakibatkan sulit bernafas, mual, kehilangan konsentrasi, dan mungkin menimbulkan adiksi atau kecanduan.

Pada beberapa jenis olahraga yang memiliki kriteria berat badan, misalnya angkat besi, atlet wanita atas kemauan sendiri atau arahan pelatihnya menggunakan diuretika, yang tujuanya mengeluarkan cairan tubuh. Pemakaian yang terlalu sering akan menyebabkan gangguan ginjal dan jantung

Cara doping lainya adalah menggunakan suntikan eritropoetin dan menyuntikan darah. Kedua cara ini akan mningkatkan jumlah sel darah merah didalam tubuh. Fungsi sel darah merah melalui hemoglobin adalah mengangkut oksigen. Dengan jumlah oksigen yang cukup bagi seluruh tubuh, proses pembakaran akan berjalan lancar sehingga energi yang dihasilkan akan bertambah. Cara ini biasanya digunakan oleh atlet yng nenerlukan daya tahan lama. Misalnya, untuk lari jauh, maraton, thriatlon, sky, berenang 800m, dan balap sepeda jarak jauh.Namun, efek bahaya suntikan eritropoetin darah menjadi lebih pekat  sehingga mudah menggumpal dan memungkinkan terjadinya struk (pecahnya pembuluh darah di otak).

Doping dengan suntikan darah akan meninbulkan reaksi alergi, meningkatnya sirkulasi darah diatas normal ,dan mungkin gangguan ginjal. Golongan obat peptidae harmonis dan analognya dapat berakibat atlet sakit kepala, perasaan selalu letih, deptesi, pembesaran buah dada pada atlet pria, dan mudah tersinggung. Selain jumlah kerugian tadi, dampek kejiwaan yang di derita atlet pengguna doping adalah siksaan tersendiri. Banyak atlet yang menderita depresi.

B. PEMBERANTASAN  DOPING DI INDONESIA

Dalam olahraga, doping merujuk pada penggunaan obat peningkat performa oleh para atlet agar dapat meningkatkan performa atlet tersebut. Akibatnya, doping dilarang oleh banyak organisasi olahraga. Menurut IOC (International Olympic Committee) pada tahun 1990, doping adalah upaya meningkatkan prestasi dengan menggunakan zat atau metode yang dilarang dalam olahraga dan tidak terkait dengan indikasi medis. Alasannya terutama mengacu pada ancaman kesehatan atas obat peningkat performa, kesamaan kesempatan bagi semua atlet dan efek olahraga “bersih” (bebas doping) yang patut dicontoh dalam kehidupan umum.

Selain obat, bentuk lain dari doping ialah doping darah, baik melalui transfusi darah maupun penggunaan hormon eritropoietin, atau steroid anabolik tetrahidrogestrinon ke jaringan tubuh, (2) manipulasi kimiawi dan fisik, misalnya merusak atau mengubah integritas dan validitas sampel yang dikumpulkan atau infus intravena, (3) doping gen dengan cara memanipulasi gen dalam bentuk apa pun untuk meningkatkan atau menurunkan faktor fisiologis, misalnya mengubah kontrol produksi hormonal dari zat-zat normal dalam tubuh dengan hormon pertumbuhan (erythropoietin).

Seorang olahragawan yang hanya dengan bukti kondisi medis terpaksa harus menggunakan zat terlarang atau metode terlarang melalui dokter medisnya dapat mengajukan permohonan ”Pembebasan Penggunaan Terapeutik” kepada federasi internasional cabang olahraga dengan pemberitahuan ke Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) paling lambat 21 hari sebelum kompetisi. Federasi internasional cabang olahraga bersangkutan dan LADI wajib segera melapor ke Badan Anti-Doping Dunia (WADA) tentang pemberitahuan ”Pengecualian Penggunaan Terapeutik” olahragawan yang bersangkutan. WADA, atas inisiatif sendiri, dapat melakukan peninjauan kapan saja atas ”Pengecualian Penggunaan Terapeutik” tersebut. WADA dapat membatalkan keputusan atas hasil peninjauan atau pemeriksaan terhadap kasus yang berkaitan dengan ”Pengecualian Penggunaan Terapeutik”.

o Komitmen Indonesia

 

Indonesia ikut dalam penandatanganan Deklarasi Copenhagen pada 5 Maret 2003. Ini menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia telah berkomitmen kuat untuk ikut bersama-sama gerakan dunia internasional melawan doping dalam olahraga. Pemerintah Indonesia mendukung secara serius upaya perang melawan doping dengan dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional Pasal 85, yaitu (1) Doping dilarang dalam semua kegiatan olahraga, (2) Setiap induk organisasi cabang olahraga dan/atau lembaga/organisasi olahraga nasional wajib membuat peraturan doping dan disertai sanksi, (3) Pengawasan doping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah. Sebagai pengoperasian Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional tersebut, Pemerintah Indonesia telah mengundangkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2007 yang antara lain berisi memberikan dasar dan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan LADI untuk perang melawan doping dalam olahraga. Guna menunjukkan konsistensi dan komitmen kuat Indonesia dalam perang melawan doping kepada dunia internasional, Pemerintah Indonesia telah melakukan ratifikasi terhadap konvensi internasional antidoping dengan diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 101 Tahun 2007 tentang pengakuan terhadap Konvensi Internasional tentang Antidoping dalam Olahraga. Pemerintah Indonesia telah mendepositokan instrumen ratifikasi tersebut kepada UNESCO di Paris pada 30 Januari 2008.

C. BAHAYA DOPING BAGI ATLET INDONESIA

Efek anabolic steroids ini pada wanita adalah :

Ø      Membesarnya otot jadi seperti pria (sebenarnya penambahan massa otot ini terutama karena retensi air dalam otot).

Ø      Tumbuhnya rambut-rambut, kumis dan jenggot.

Ø      Suara menjadi serak.

Ø      Timbul gangguan menstruasi

Ø      Mengecilkan ukuran buah dada

Ø      Meningkatkan agresivitas

Sedangkan pada laki-laki obat ini menyebabkan pengurangan spermatogenesis. Dari laporan-laporan yang dapat dikumpulkan efek-efek anabolic steroid lain ialah:

o       Kerusakan pada hepar dan dapat pula menyebabkan pertumbuhan tumor ganas

o       Hipertensi

o       Pendarahan gastro-intestinal

o       Pada masa pertumbuhan dapat menyebabkan tertutupnya epifisis jadi dapat menghambat pertumbuhan

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Tak perlu bertanya kepada para pelaku, kita bisa menduga bahwa Prestasi, Gengsi, Ambisi, Bonus, Uang, Ketenaran, hiruk pikuk tepukan dan puja puji adalah jawaban mengapa seorang atlet menggunakan Doping. Bisa jadi atlet hanyalah alat dari ambisi terselubung sebuah institusi induk organisasi, atau siapapun yang berada di balik layar, atau bahkan sebuah negara. Sejauh ini, jika seorang olahragawan dicurigai dan pada pemeriksaan berikutnya benar-benar terbukti menggunakan Doping, maka dialah terdakwa utama, kambing paling hitam dari kambing-kambing hitam lain yang mungkin ikut berperan namun luput dari jeratan sanksi. Atau, tak jarang pula olahragawan tersebut memang pengguna Doping sejati yang merancangnya secara sistematis demi sebuah prestasi. Kita maklum, banyak negara menjadikan olahraga bak sebuah industri, melibatkan uang, melibatkan berbagai pihak dan kepentingan. Di sisi lain, sajian olahraga menjadi makin menarik, penuh pesona, mampu menyedot perhatian berjuta pasang mata, menciptakan kelompok-kelompok para fans, melecut gairah, menggugah histeria. Kadang memicu pertengkaran, perkelahian atau bahkan nyawapun jadi tumbal. Untuk itulah para olahragawan (dan para ofisial) dituntut selalu tampil prima untuk meraih impian, yakni: Kemenangan dan Prestasi ! Tak ada yang salah ketika “kemenangan”, “gengsi” dan prestasi dikumandangkan. Namun upaya ke arah itu sepantasnya menggunakan cara-cara jujur dengan menjunjung tinggi nilai sportivitas sebagai “ruh” olah raga itu sendiri. Tentu dengan latihan tekun, teratur, terukur, sistematis dengan memanfaatkan teknologi terkini sejauh tidak melanggar ketentuan Induk Organisai Olahraga dan tidak merugikan kesehatan.Meski sudah resmi dilarang, banyak atlet yang masih keukeuh memakai doping sebagai shortcut untuk memenangkan pertandingan. Selain itu, doping juga berbahaya bagi kesehatan si atlet sebab dapat menyebabkan timbulnya penyakit, cacat, bahkan kematian. Jadi, keuntungan yang didapat tidaklah seimbang dengan kerugian yang akan diderita bertahun-tahun kemudian. Belum lagi kalau ketahuan, si atlet dan pembinanya harus menanggung rasa malu. Jenis obat yang masuk doping adalah golongan stimulan (perangsang), golongan narkotik analgesic, golongan anabolik steroid, golongan betablocker, golongan diuretika, serta golongan peptide hormons dan analognya

DAFTAR PUSTAKA

o       PIKIRAN RAKYAT – Atlet, Doping, dan Drugs.mht

o       Tilarso Hario, 1995. Masalah Dopping. Jakarta

o       Ping menuai, 2008. Artikel Doping : Mengejar Prestasi Menuai Sanksi. Jakarta 13 Januari 2008.

o       http://www.ilmuolahraga.blogspot.com/2008/06/bahaya-doping.html

o       http://calon-dokter.blogspot.com/2008/06/beberapa-obat-doping.html

o       Kumpulan materi kursus dasar kesehatan olahraga, dinas kesehatan sekolah,mahasiswa dan olahraga departemen kesehatan RI, 1975.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: